
Keutamaan Lailatul Qadar
Mengenai pengertian lailatul qadar, para ulama ada beberapa versi pendapat. Ada yang mengatakan bahwa malam lailatul qadr adalah malam kemuliaan. Ada pula yang mengatakan bahwa lailatul qadar adalah malam yang penuh sesak karena ketika itu banyak malaikat turun ke dunia. Ada pula yang mengatakan bahwa malam tersebut adalah malam penetapan takdir. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa lailatul qadar dinamakan demikian karena pada malam tersebut turun kitab yang mulia, turun rahmat dan turun malaikat yang mulia (Zaadul Maysir, 6/177, Ibnul Jauziy, Mawqi’ At Tafaasir, Asy Syamilah).
Semua makna lailatul qadar yang sudah disebutkan ini adalah benar. Adapun keutamaan lailatul qadar adalah:
Pertama, lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ , فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan: 3-4).
Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1)
Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ , تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ , سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar: 3-5). Sebagaimana kata Abu Hurairah, malaikat akan turun pada malam lailatul qadar dengan jumlah tak terhingga (Periksa Zaadul Maysir, 6/179). Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar (-idem-, 6/180).
Kedua, lailatul qadar lebih baik dari 1000 bulan. An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, 1428 H). Mujahid dan Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar (Periksa Zaadul Maysir, 6/179).
Ketiga, menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat akan mendapatkan pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)
Kapan Lailatul Qadar Terjadi?
Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)
Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)
Lalu kapan tanggal pasti lailatul qadar terjadi? Ibnu Hajar Al Asqolani telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun (Lihat Fathul Baari, 6/306, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah). Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima, itu semua tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى
“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)
Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan. (-idem-)
Doa di Malam Lailatul Qadar
Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ : قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
“Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah “Allahumma innaka ‘afuwwun …” tidak terdapat satu dalam manuskrip pun. Lihat Tarooju’at no. 25)
Tanda Malam Lailatul Qadar
Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء
“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya)
Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.
Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.
Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim no. 1174) (Lihat pembahasan di Shahih Fiqih Sunnah, 2/149-150, Abu Malik, Maktabah At Taufiqiyyah)
Bagaimana Seorang Muslim Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?
Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah. Barangsiapa yang terluput dari lailatul qadar, maka dia telah terluput dari seluruh kebaikan. Sungguh merugi seseorang yang luput dari malam tersebut. Seharusnya setiap muslim mengecamkan baik-baik sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فِيهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
“Di bulan Ramadhan ini terdapat lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim lebih giat beribadah ketika itu dengan dasar iman dan tamak akan pahala melimpah di sisi Allah. Seharusnya dia dapat mencontoh Nabinya yang giat ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. ‘Aisyah menceritakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)
Seharusnya setiap muslim dapat memperbanyak ibadahnya ketika itu, menjauhi istri-istrinya dari berjima’ dan membangunkan keluarga untuk melakukan ketaatan pada malam tersebut. ‘Aisyah mengatakan,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’ – Lihat tafsiran ini di Latho-if Al Ma’arif, hal. 332), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)
Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)
Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan malam lailatul qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan bukan seluruh malam, Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama Syafi’iyah (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 329). Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 3/313, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)
Bagaimana Wanita Haidh Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?
Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya dalam keadaan berdzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)
Dari riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haidh, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian lailatul qadar. Namun karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya. Yang dapat wanita haidh lakukan ketika itu adalah:
1. Membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf. (Dalam at Tamhid (17/397, Syamilah), Ibnu Abdil Barr berkata, “Para pakar fiqh dari berbagai kota baik Madinah, Iraq dan Syam tidak berselisih pendapat bahwa mushaf tidaklah boleh disentuh melainkan oleh orang yang suci dalam artian berwudhu. Inilah pendapat Imam Malik, Syafii, Abu Hanifah, Sufyan ats Tsauri, al Auzai, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, Abu Tsaur dan Abu Ubaid. Merekalah para pakar fiqh dan hadits di masanya)
2. Berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya.
3. Memperbanyak istighfar.
4. Memperbanyak doa. (Lihat pembahasan di “Al Islam Su-al wa Jawab” pada link http://www.islam-qa.com/ar/ref/26753)
Beri'tikaf Demi Menanti Lailatul Qadar
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Inilah penuturan ‘Aisyah (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim 1172). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu (Latho-if Al Ma’arif, hal. 338).
Beberapa hal yang bisa diperhatikan ketika ingin beri’tikaf.
Pertama, i’tikaf harus dilakukan di masjid dan boleh di masjid mana saja.
I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid” (QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali.
Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”. Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, “Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid yaitu masjidil harom, masjid nabawi dan masjidil aqsho”. Perlu diketahui, hadits ini masih diperselisihkan statusnya, apakah marfu’ (sabda Nabi) atau mauquf (perkataan sahabat).
Kedua, wanita juga boleh beri’tikaf sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf. Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat: (1) Diizinkan oleh suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki).
Ketiga, yang membatalkan i’tikaf adalah: (1) Keluar masjid tanpa alasan syar’i atau tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak (misalnya untuk mencari makan, mandi junub , yang hanya bisa dilakukan di luar masjid), (2) Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah : 187 di atas.
Keempat, hal-hal yang dibolehkan ketika beri’tikaf di antaranya:
1. Keluar masjid disebabkan ada hajat seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid.
2. Melakukan hal-hal mubah seperti bercakap-cakap dengan orang lain.
3. Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya.
4. Mandi dan berwudhu di masjid.
5. Membawa kasur untuk tidur di masjid.
Kelima, jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 (sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan.
Keenam, hendaknya ketika beri’tikaf, sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. (Pembahasan i’tikaf ini disarikan dari Shahih Fiqih Sunnah, 2/150-158)
Semoga Allah memudahkan kita menghidupkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan dengan amalan ketaatan.
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
muslim.or.id/suaramedia.com
di kutip dari http://www.fiqhislam.com
Jumat, 27 Agustus 2010
Tanda-Tanda Malam Penuh Berkah, Lailatul Qadar
DO’A ADALAH IBADAH

Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Turmudzi menunjukkan bahwa do’a merupakan jenis ibadah yang paling penting. Karena shalat tidak boleh ditujukan kepada Rasul atau wali. Demikian pula do’a.
1.Orang yang mengatakan “ya Rasululloh” atau “Hai orang yang ghaib, berilah aku pertolongan dan anugrah”, berarti berdo’a kepada selain Allah, meskipun niatrnya bahwa yang memberi pertolongan itu Allah.
Demikian pula orang yang berkata,”saya shalat untuk Rasul atau wali” meskipun dalam hatinya untuk Allah, shalat seperti itu tidak akan diterima, karena ucapannya berlawanan dengan hatinya. Ucapan harus sesuai dengan niat dan keyakinan. Bila tidak demikian maka perbuatannya termasuk syirik yang tidak diampuni selain dengan taubat.
2.Apabila ia mengatakan yang diniatkan adalah Nabi atau wali itu sebagai perantara kepada Allah, seperti menghadap raja, perlu seorang perantara maka yang demikian itu merupakan menyamakan (tasybih) Allah dengan makhluk yang dhalim. Tasybih seperti itu akan menyeretnya kepada kekufuran. Padahal Allah telah berfirman yang menyatakan kesuciannya daripada penyamaan dengan makhlukNya baik dalam dzat, sifat maupun titahNya.
Firmannya :
] ليس كمثله شيء وهو السميع البصير [
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (As-Syura : 11).
3.Orang-orang musyrik pada zaman Nabi Shallallahu'alaihi wasallam meyakini bahwa Allah pencipta dan pemberi rizki, tetapi mereka berdo’a kepada wali-wali (pelindung) mereka yang berwujud patung.
Mereka beranggapan bahwa patung-patung itu menjadi perantara yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Ternyata Allah tidak mentolerir perbuatan mereka itu bahkan mengkafirkan mereka dengan firmanNya :
] وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ[ (3) سورة الزمر
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berkata: kami tidak menyembah mereka kecuali hanya agar mereka dapat mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh Allah tidak memberikan petunjuk kepda orang-orang yang dusta dan sangat ingkar.” (Az-Zumar ; 3).
Allah itu dekat dan mendengar, tidak perlu perantara. Firmannya :
] وإذا سألك عبادي فإني قريب [
“Apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang diriKu, maka sesungguhnyaAku dekat.” (Al-Baqarah : 186).
4.ang-orang musyrik apabila berada dalam bahaya berdo’a hanya kepada Allah saja, tetapi setelah selamat dari bahaya mereka berdo’a kepada pelindung-pelindungnya berupa patung-patung, sehingga Allah menyebut mereka sebagai orang kafir.
Firmannya :
] وَجَاءهُمُ الْمَوْجُ مِن كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّواْ أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُاْ اللّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنِّ مِنَ الشَّاكِرِينَ[ (22) سورة يونس
“Dan apabila gelombang dari segenap penjuru menimpanya dan mereka yakin bahwa mereka dalam kepungan bahaya, mereka berdo’a kepada Allah dengan ikhlas semata-mata kepadanya. Mereka berkata :sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”(Yunus : 22).
Maka kenapa sejumlah orang Islam berdo’a kepada para rasul dan orang-orang shaleh (selain Allah). Mereka meminta pertolongan daripadanya, baik di waktu susah maupun gembira. Apakah mereka tidak membaca firman Allah :
]وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَومِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ} (5)وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاء وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ[ سورة الأحقاف
“Siapa gerangan yang lebih sesat daripada orang yang berdo’a kepada selain Allah, yaitu kepada orang yang tidak dapat memberikan pertolongan sampai hari kiamat, sedangkan mereka sendiri lalai akan do’a mereka. Dan apabila mereka dikumpulkan pada hari kiamat, niscaya sesembahan mereka akan menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan mereka.” (Al-Ahqaf : 5-6).
5.Banyak orang yang menyangka bahwa kaum musyrikin yang disebut dalam Al-Qur’an itu adalah orang yang menyembah patung yang terbuat dari batu. Anggapan itu keliru, sebab patung-patung itu dahulunya adalah nama-nama orang shaleh. Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu'anhu mengenai firman Allah dalam surat Nuh :
] وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا[ (23) سورة نوح
“Dan mereka berkata : jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhanmu dan jangan pula meninggalkan WADD, SUWA, YAGHUTS, YA’UQ dan NASR. (Nuh : 23).
Ibnu Abbas mengatakan bahwa nama-nama tersebut adalah nama-nama orang-orang shaleh umat nabi Nuh u. Setelah mereka mati, setan membisikkan kepada para pengikutnya agar di tempat duduk mereka, didirikan monumen-monumen yang diberi nama dengan nama mereka. Mereka melaksanakannya namun patung-patung itu belum sampai disembah. Setelah pembuat patung-patung itu mati dan generasi berikutnya tidak lagi mengetahui asal-usulnya, patung-patung itu ahirnya disembah.
6.Allah membantah orang-orang yang berdo’a kepada para Nabi dan wali:
]قُلِ ادْعُواْ الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً (56) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا[سورة الإسراء
“Katakanlah, panggillah mereka yang kamu anggap tuhan selain Allah. Mereka tidak mempunyai kekuasaan untuk menolak bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu sendiri justru mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat dengan Allah dan juga mengahrapkan rahmatNya serta takut akan Adzabnya. Sungguh adzab Tuhanmu itu sesuatu yang patut ditakuti.” (Al-isra’ : 56-57).
Imam ibnu Katsir menafsirkan bahwa ayat ini turun mengenai sekelompok manusia yang menyembah jin dan berdo’a kepadanya. Jin tersebut kemudian masuk Islam. Ada juga yang mengatakan bahwa ayat ini turun mengenai orang-orang yang berdo’a kepada Isa Al-Masih dan malaikat. Dari keterangan-keterangan di atas telah jelas bahwa ayat ini membantah dan mengingkari orang-orang yang berdo’a kepada selain Allah, meskipun kepada Nabi atau wali.
7.Ada orang yang menyangka bahwa minta tolong (istighatsah) kepada selain Allah itu boleh dengan alasan bahwa yang memberi pertolongan sebanarnya adalah Allah, seperti istighatsah kepada Rasul dan wali-wali. Ini dikatakan boleh, seperti ada orang yang berkata : saya disembuhkan oleh obat dan dokter. Pendapat ini salah dan dibantah oleh firman Allah yang mengisahkan do’a Nabi Ibrahim u :
] الذين خلقني فهو يهدين. والذين هو يطعمني ويسقين. وإذا مرضت فهو يشفين [
“ Allah lah yang menciptakan aku maka Dialah yang memberikan petunjuk kepadaku. Dialah yang memberi makan dan minum aku, dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku.” (Asy-syuaraa’ : 78-80).
Ayat ini menerangkan bahwa pemberi petunjuk, rezki dan kesembuhan adalah Allah saja bukan yang lain, sedangkan obat hanyalah sebagai sebab saja dan tidak menyembuhkan.
8.Banyak orang yang tidak dapat membedakan antara istighatsah kepada orang hidup dan istighatsah kepada orang mati. Firman Allah :
] وما يستوي الأحياء ولا الأموات [
“Tidaklah sama orang yang hidup dengan orang yang mati.” (Fathir : 22).
] فاستغاثه الذي من شيعته على الذين من عدوه [
“Nabi Musa dimintaitolong oleh seorang dari golongannya untuk mengalahkan musuh orang itu.” (Al-Qashah : 15).
Ayat ini menceritakan tentang seorang yang minta tolong kepada Musa agar melindunginya dari musuhnya dan Musa pun menolongnya:
] فوكزه موسى فقضى عليه [
“Dan Musa meninjunya sehingga matilah musuh itu.” (Al-Qashash : 15)
Adapun orang mati tidak boleh kita meminta tolong kepadanya karena ia tidak dapat mendengar do’a kita. Andaikata mendengar pun ia tidak akan dapat memenuhi permintaan kita karena ia tidak dapat melakukannya. Firman Allah :
]إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِير[ٍ (14) سورة فاطر
“Apabila kamu berdo’a kepada mereka, mereka tidak dapat mendengar do’a kamu dan seandainya mereka dapat mendengar, mereka tidak dapat memenuhi permintaanmu. Dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu.” (Fathir : 14).
] والذين يدعون من دون الله لا يخلقون شيئا وهم يخلقون. أموات غير أحياء وما يشعرون أيان يبعثون [
“dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah itu tidak dapat membuat sesuatu apapun sedang mereka sendiri dibuat orang. Mereka itu benda mati, tidak hidup dan mereka itu tidak dapat mengetahui kapan akan dibangkitkan.” (An-Nahl : 20-21).
8.Dalam hadits-hadits shahih terdapat keterangan bahwa menusia pada hari kiamat nanti mendatangi para Nabi untuk minta syafaat, sampai mereka mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam untuk meminta syafaat agar segera dibebaskan. Nabi Muhammad menjawab : ya, memang saya dapat memberi syafaat, kemudian beliau sujud di bawah Arsy dan memohon kepada Allah agar mereka segera dibebaskan dan dipercepat proses penghisabannya. Syafaat ini adalah permintaan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam dan waktu itu beliau dalam keadaan hidup dimana beliau dapat berbicara dengan mereka lalu beliau memohonkan syafaat. Itulah yang diperbuat Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam.
9.Argumen yang paling tepat untuk membedakan antara memohon kepada orang mati dan orang hidup adalah apa yang dikatakan Umar bin Khatthab pada waktu terjadi kekeringan dimana beliau meminta kepada Al-Abbas paman Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam untuk mendo’akan mereka, dan Umar tidak pernah minta tolong kepada Nabi Shallallahu'alaihi wasallam setelah beliau wafat.
10.Ada sejumlah ulama yang menyangka bahwa tawassul itu sama dengan istighatsah, padahal perbedaan antara keduanya besar sekali. Tawassul adalah berdo’a kepada Allah melalui perantara seperti, wahai Allah, dengan perantaraan cintaku kepadamu dan cintaku kepada Rasulmu bebaskanlah kami. Do’a dengan cara tawassul seperti ini boleh. Istighatsah adalah berdo’a kepada selain Allah seperti, wahai Rasululloh, bebaskanlah kami. Ini tidak boleh, bahkan termasuk syirik besar berdasarkan firman Allah :
] ولا تدع من دون الله ما لا ينفعك ولا يضرك فإن فعلت فإنك إذا من الظالمين [
“Dan janganlah kamu berdo’a kepada selain Allah, yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi madharat kepadamu, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang zalim (musyrik).” (Yunus : 106).
Dikutip dari Buku “BIMBINGAN ISLAM UNTUK PRIBADI DAN MASYARAKAT”
Sabtu, 17 Januari 2009
Mengenang Rasulullah
| |
|
| Setelah Nabi wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, "Ceritakan padaku akhlak Muhammad!". Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib. Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, "Ceritakan padaku keindahan dunia ini!." Badui ini menjawab, "Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini..." Ali menjawab, "Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)" Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi yang sering disapa "Khumairah" oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur'an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur'an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan Al-Qur'an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur'an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu'minun[23]: 1-11. Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini. Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi, Aisyah hanya menjawab, "ah semua perilakunya indah." Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. "Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, 'Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.'" Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah. Nabi Muhammad jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, "Mengapa engkau tidur di sini?" Nabi Muhammmad menjawab, "Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu." Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi mengingatkan, "berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya." Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka. Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi. Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia. Nabi Muhammad juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul selalu memujinya. Abu Bakar-lah yang menemani Rasul ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit. Tentang Umar, Rasul pernah berkata, "Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain." Dalam riwayat lain disebutkan, "Nabi bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta'wil) mimpimu itu? Rasul menjawab ilmu pengetahuan." Tentang Utsman, Rasul sangat menghargai Ustman karena itu Utsman menikahi dua putri nabi, hingga Utsman dijuluki dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. "Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya." "Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik." Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah...ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi. Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad. Buktinya, dalam Al-Qur'an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad, Allah menyapanya dengan "Wahai Nabi". Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau. Para sahabatpun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap rasul. Mereka ingin Rasul menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: "Angkat Al-Qa'qa bin Ma'bad sebagai pemimpin." Kata Umar, "Tidak, angkatlah Al-Aqra' bin Habis." Abu Bakar berkata ke Umar, "Kamu hanya ingin membantah aku saja," Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud membantahmu." Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal-amal kamu dan kamu tidak menyadarinya (al-hujurat 1-2) Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, "Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia." Umar juga berbicara kepada Nabi dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi. Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi'ah. Ia berkata pada Nabi, "Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami" Nabi mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, "Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?" "Sudah." kata Utbah. Nabi membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya. Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi dengan sabar mendegarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah! Ketika Nabi tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi bahwa Nabi akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya N abi. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi? "Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu." Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi telah menyerap di sanubari kita atau tidak. Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi berkata pada para sahabat, "Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!" Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, "Dahulu ketika engkau memeriksa barisa di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini." Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap "membereskan" orang itu. Nabi melarangnya. Nabi pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah Nabi. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi keheranan ketika Nabi meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka. Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi. Nabi berkata, "lakukanlah!" Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, "Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah." Seketika itu juga terdengar ucapan, "Allahu Akbar" berkali-kali. sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil Nabi. Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia. Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na'udzu billah... Nabi Muhammad ketika saat haji Wada', di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, "Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?" Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi melanjutkan, "Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah...?" Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, "benar ya Rasul!" Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, "Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah!". Nabi meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah."Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah... Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah" |
Hukum Masturbasi (ONANI)
Ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Pertama haram, dan kedua boleh-boleh saja. Ulama yang berpendapat demikian, mendasarkan keharamannya pada QS. Al-Mu'minuun:5-7, yang artinya "Dan orang orang yang mememlihara kemaluannya kecualai terhadap istrinya atau hamba sahaya, Mereka yang demikian itu tak tercela. Tetapi barangsiapa mau selain yang demikian itu, maka mereka itu orang-orang yang melewati batas." Keharaman ini juga didasarkan pada alasan bahwa orang yang onani itu ibaratnya melepaskan syahwatnya bukan pada tempatnya. Seperti itu jelas tidak diperbolehkan.
Sedang ulama yang memperbolehkan onani atau masturbasi ini beralasan bahwa mani adalah sesuatu yang lebih. Karenanya boleh dikeluarkan. Bahkan hal itu diibaratkan dengan memotong daging lebih. Pendapat demikian ini didukung Imam Hambali dan Ibnu Hazm. Sedang ulama Hanafiah memberikan batas kebolehan dalam keadaan: (1) karena takut berbuat zina, dan (2) karena tidak mampu kawin (tapi syahwat berlebihan).
Selain itu, Rasul SAW juga telah mengajarkan bagaimana menghindari luapan birahi, bagi para pemuda yang belum mampu kawin: hendaknya sering-sering melakukan puasa, karena puasa itu hikmah, dan puasa bisa membendung syahwat atau nafsu birahi. Sabda Rasul: "Hai para pemuda, barang siapa diantara kalian sudah ada kemampuan (fisik dan modal berumah tangga), maka kawinlah karena perkawinan itu bisa menjinakkan pandangan dan kemaluan. Tetapi barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab puasa itu bisa membendung syahwat. (HR. Bukhari).
Jelaslah, dengan demikian, bahwa onani dalam keadaan "terpaksa" boleh saja dilakukan. Itu seperti dalam keadaan yang Anda contohkan itu.
Kendati demikian, demi kehati-hatian, pendapat yang mengharamkan onani lebih baik dipegang. Adapun dibolehkannya onani dalam saat-saat darurat, seperti yang Anda ceritakan itu, itu atas dasar pertimbangan "al-dlaruuraat tubiihu al-mahdhuuraat" (keadaan darurat bisa membolehkan hal-hal yang terlarang).
Namun apa yang terbaik ialah apa yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW terhadap pemuda yang tidak mampu untuk kawin, yaitu hendaklah dia memperbanyakkan puasa, di mana puasa itu dapat mendidik keinginan, mengajar kesabaran dan menguatkan takwa serta muraqabah kepada Allah Taala di dalam diri seorang muslim. Sebagaimana sabdanya:”Wahai sekalian pemuda! Barangsiapa di antara kamu mempunyai kemampuan, maka kawinlah, karen ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan, tetapi barangsiapa yang tidak berkemampuan, maka hendaklah dia berpuasa karena puasa itu baginya merupakan pelindung.” (HR Bukhari).
Tapi Menurut Saya Melakukan kebiasaan yang jelek, artinya onani (manstrubasi) dengan tangan atau dengan yang lainnya, hukumnya adalah haram, berdasarkan dalil-dalil dari Kitab dan sunnah serta akal sehat. Adapun dari kitab Allah berfirman :
Dan orang-orang yang mereka menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al-Mukminun : 5-7). Adapun akal sehat; yaitu efek negatif yang banyak ditimbulkan oleh sebab melakukan onani tersebut, para ahli medis menyebutkan, bahwa di dalam melakukan onani terdapat bahaya yang berefek samping ke badan, nafsu seksual dan pikiran serta daya tangkap. Dan bisa jadi menghalangi seseorang untuk melakukan pernikahan yang sebenarnya, karena seseorang apabila nafsu seksualnya telah terpenuhi oleh perbuatan ini, kadang-kadang dia tidak lagi berkeinginan untuk menikah.
Jadi intinya ada baiknya jika hal tersebut tidak dilakukan. Selama NAFSU masih bisa dikendalikan jangan pernah berniat untuk melakukan hal-hal yang negatif, cobalah untuk berpikiran positif dan tanamkan jiwa keislaman (keimanan) dalam diri. Insya Allah, Allah SWT akan slalu memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepadamu. Wallahu Allam p>
BHOER
Jumat, 16 Januari 2009
GHAZWUL FIKRI (Perang Pemikiran)
Di antara berbagai tantangan besar yang harus dihadapi oleh generasi Islam hari ini adalah tantangan ghazwul fikri (perang pemikiran) yang melanda dunia Islam dari satu ujung sampai ke ujung lainnya.
A. Dunia Barat
Dunia Barat mengibarkan bendera sekularisme yang memenjarakan ajaran agama di antara dua dinding rumah ibadah dan menolak keterlibatan dan peran apa pun dari agama dalam upaya perbaikan atau perubahan atau kebangkitan peradaban umat manusia.
Di bidang ekonomi, mereka mengangkat doktrin-doktrin kapitalisme.
Di bidang politik, mereka mengangkat sistem demokrasi.
Di bidang sosial, mereka mengangkat prinsip-prinsip kebebasan dan liberalisme yang tidak lebih dari paham permisifme (serba boleh) dan lebih dekat pada anarkhisme, bahkan paham ini menjadi lembing penikam terhadap nilai-nilai, moralitas, dan agama.
Teori-teori, doktrin-doktrin, dan pemikiran-pemikiran dunia Barat memerangi masyarakat Islam dengan nilai-nilai barunya dan dengan berbagai macam cara dan jalan untuk menjauhkan kaum muslimin dari nilai-nilai Islam dan tuntunannya, dari prinsip-prinsip dan nilai-nilai moralnya, yang di dalamnya terletak kejayaannya, yang di atas nilai-nilai Islam itu bergantung keberadaan dan eksistensinya.
B. Timur Konumis
Timur Komunis mengangkat bendera sosialisme dan komunisme. Dengan doktrin ini, mereka menyesatkan kaum rendahan (rakyat jelata) dari golongan petani dan buruh. Mereka membiusnya dengan janji dan harapan bahwa kekuasaan ada di tangan mereka atau untuk golongan proleter—menurut istilah mereka.
Mereka melakukan penyesatan dan mempropagandakan doktrin-doktrin atheisnya di kalangan pemuda, buruh, dan petani, dan berbagai lapisan masyarakat kalangan bawah yang miskin serta kalangan masyarakat Islam.
Di tengah-tengah ghazful fikri dari dunia Barat yang rusak, dan penyesatan dunia Timur yang atheis dan kafir ini, sebagian besar kaum muslimin hidup di antara kebingunan dan kebimbangan, di antara ancaman kepunahan dan perpecahan dan kehilangan sistem kepemimpinan yang rasyidah (luhur/benar) dan kesatuan Islam yang kokoh, mereka mencari-cari secercah cahaya di tengah-tengah fatamorgana yang menipu, dan mencari-cari jalan keselamatan di tengah-tengah keadaan yang sangat gelap gulita. Tak mungkin mereka bisa melihat cahaya dan memperoleh jalan keselamatan sehingga mereka tahu sebab kemunduran dan keterbelakangannya, agar kembali lagi kepada kejayaan yang kokoh, kepemimpinannya yang memelopori, dan daulahnya yang lurus dan berwibawa.
Wahai saudaraku pemuda! kalian akan tahu dalam pembahasan yang mengupas tantangan ghazful fikri yang ditujukan kepada generasi Islam, skenario jahat apa yang telah dirancang oleh Barat terhadap dunia Islam untuk memurtadkan kaum muslimin dari agamanya? Dan, apa pula yang dikehendaki oleh Timur, komunis, dengan ghazful fikri –nya terhadap negeri-negeri Islam.
Andai kita lupa, tetapi kita tidak akan lupa dengan konspirasi-konspirasi, skenario-skenario, cara-cara, dan perkumpulan-perkumpulan rahasia yang dibuat oleh kaum Zionis Internasional terhadap masyarakat dunia pada umumnya dan masyarakat Islam pada khususnya, dan menundukkan seluruh masyarakat dunia pada sistem politik dan kekuasaannya. Demikianlah yang mereka perbuat.
Kalian akan tahu--wahai saudaraku pemuda—dalam bahasan ini, sinyal-sinyal dari semua rencana jahat tersebut, supaya kalian tahu bagaimana aqidah dan akhlak kalian diperangi sedangkan kalian tetap berada di rumah. Dan, bagaimana mereka merancang jerat perangkap dan tipu muslihat untuk mengeluarkan kalian dari keislaman kalian. Allahlah tempat meminta pertolongan dan kepada-Nyalah kita semua menggantungkan urusan.
Mengapa Barat dan Timur Memerangi Islam?
Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia dengan cepat dan luar biasa karena beberapa sebab.
a. Rabbaniyah
Islam berasal dari Sang Pencipta Yang Maha Mengatur lagi Maha Bijaksana.
“… dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maa’idah: 50).
b. Kekal
Allahlah yang menjaga agama ini.
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (Al-Hijr: 9).
c. Alami
Rasulullah saw. diutus kepada seluruh manusia.
“Dan Kami tiada mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan….” (Saba’: 28).
d. Universal (Syumul)
Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, meliputi segenap sistem (tatanan) yang dibutuhkan oleh umat manusia dalam urusan agama dan dunianya, masa sekarang dan yang akan datang, di waktu damai maupun masa perang.
“…. Dan Kami turunkan kepadamu al-kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl: 89).
e. Revolusioner
Islam merangkum semua urusan para nabi serta menjaga keaslian semua risalah, dan Allah ridha risalah ini mengalahkan semua dien yang ada.
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang (datang) sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu penguji terhadap kitab-kitab yang lain ….” (Al-Maa’idah: 48).
f. Tasyri’iyyah
Islam datang dengan membawa hukum atau perundang-undangan, prinsip-prinsip umum, kaidah-kaidah global, dan masalah-masalah mendasar yang dapat menjawab semua tuntutan zaman dan sejalan dengan peradaban masa.
“… tiadalah Kami lalaikan sesuatu urusan di dalam al-kitab (Al-Qur'an) ….” (Al-An’am: 38).
Dari berbagai keistimewaan-keistimewaan atau kekhususan yang terkandung di dalam risalah Islam ini, maka Rasulullah saw. mengumumkan di hadapan khalayak ramai yang tengah berkumpul pada saat Haji Wada’:
“… pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku dan Aku telah ridha Islam sebagai agama kalian ….” (Al-Maa’idah: 3).
Beliau juga telah berpesan kepada umatnya, dalam berbagai kesempatan, bahwasannya ia telah meninggalkan mereka di atas jalan yang terang, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Rasulullah saw. telah menjalankan tugasnya dalam menyampaikan risalah. Sebelum beliau berpulang ke rahmatullah, agama Islam telah menyebar ke seluruh penjuru Jazirah Arab, sampai di negeri Tihamah dan Nejed, dan masuk ke negeri Yaman dan Bahrain, dan sampai di wilayah perbatasan Syam.
Dan, pada masa pemerintahan Khulafa’ur Rasyidin, agama Islam merambah kekuasaannya di dua kerajaan besar (yang telah mereka tumbangkan) yakni negeri Persia dan negeri Romawi, dan membentang luas kekuasaannya sampai ke negeri Sind di ujung timur, ke negeri Khazar, Armenia dan negeri-negeri Rusia di ujung utara, dan masuk dalam kekuasaannya yang adil: negeri Syam, mesir, Burqah, Tripoli, dan negeri-negeri lainnya di Benua Afrika. Semuanya itu bisa diraih hanya dalam waktu 35 tahun.
Belum sampai masuk tahun 102 Hijriah, yakni pada masa kekuasaan Bani ‘Umayyah, Islam telah menyebar luas dan kekuasaannya membentang sampai ke negeri-negeri Sind, dan sebagian besar wilayah India, dan sampai ke perbatasan negeri Cina di bagian timurnya, dan membentang ke Barat sampai di negeri Andalusia di Eropa.
Demikianlah, Islam meliputi alam semesta dengan kekuatan dan unsur kehidupan bagaikan matahari, menempuh (jarak perjalanan) bumi dengan kecepatan sangat luar biasa, seolah-olah seperti jalannya siang dan malam saja.
Khalifah Daulah ‘Abbasiyyah, Harun ar-Rasyid menggambarkan kepada dunia, luasnya kerajaan Islam dan kekuasaannya yang terbentang di muka bumi—ia tidak mendapati suatu padanan selain mengatakan kepada arakan awan/mendung yang melewatinya namun tidak menurunkan hujan: “Hujanlah di mana pun engkau suka, karena sesungguhnya pajakmu akan dibawa datang kepada kami.”
Mengapa Barat Cemas dan Mendongkol?
Itu tidak lain karena kaki-kaki kaum muslimin pernah menginjak bumi Eropa, dan angkatan perang mereka sampai ke perbatasan negeri Perancis, sehingga bangkitlah orang-orang Eropa dari tidurnya dalam keadaan bengong dan tercengang, mereka berkata, “Sungguh menakjubkan sekali, agama apa ini yang bisa menembus dunia dengan kekuatan dan kecepatan yang begitu mengagumkan? Mereka menumbangkan kerajaan Romawi, masuk Italia, menaklukkan Espania (Spanyol), lalu sekarang berusaha menyeberang pegunungan untuk menguasai Perancis!”
Mereka berpikir keras dan merenungkan, dan akhrinya mereka melihat bahwa jika mereka sampai membiarkan kaum muslimin begitu saja, maka Islam akan tersebar, dan akan menaklukkan kerajaan-kerajaan serta menembus sampai ke ujung batas dunia …, maka sudah dapat dipastikan kalau kendali kekuasaan dunia kelak akan berada di tangan mereka, bahkan seluruh umat manusia akan tunduk di bawah kekuasaan dan kepemimpinan mereka.
Jika demikian, maka genderang perang harus ditabuh, angkatan perang harus disiapkan, perlengkapan-perlengkapan perang harus digalang, front-front perlawanan harus disatui-padukan untuk menghadapi satu musuh besar sehingga mereka dapat—menurut persepsi mereka—mengalahkan Islam, menumpas kaum muslimin sehingga tidak dapat bangkit kembali melakukan perlawanan setelah itu.
Akan tetapi, kaum yang dengki dan rakus itu harus menebus buah dari kepongahan dan kedunguan mereka, yang telah mengirimkan angkatan perang Salibi secara beruntun dan bergelombang. Mereka harus mereguk kekalahan, kehinaan, dan aib dalam peperangan Hiththin yang dahsyat dan menentukan di tangan pahlawan Islam yang cerdik dan gagah berani, Shalahuddin al-Ayyubi. Mereka kembali dengan membawa kegagalan yang tragis dan mengenaskan serta kekalahan yang memalukan, dan mereka menyembunyikan diri di benteng-bentang persembunyian mereka dalam keadaan terhina dan menyesali diri.
Serangan-serangan yang dilancarkan orang-orang kafir salibi terhadap umat Islam itu tidak menambah kecuali iman, yakni tekad dan perlawanan belaka … oleh karena panggilan “Allahu Akbar” adalah slogan mereka, jihad adalah jalan hidup mereka, dan mati di jalan Allah adalah cita-cita mereka yang tinggi.
Apakah Musuh Menggunakan Cara Lain?
Ya benar, ketika besi dan api gagal untuk menghancurkan kesatuan umat Islam, dan angkatan perang orang-orang kafir salibi terpukul mundur dalam keadaan terusir dan terhina di hadapan poasukan Shalahuddin, maka musuh-musuh Islam berpikir kembali untuk mencari taktik baru yang akan mereka gunakan untuk memerangi Islam, dan cara-cara keji yang menjadikan daulah Islam yang satu yang terepresentasikan dalam sebuah kekhalifahan menjadi umat yang banyak dan negeri-negeri kecil yang terpisah-pisah. Dan, menjadikan tatanan-tatanan Islam tersisih dan muncul sebagai gantinya tatanan-tatanan bumi dan hukum-hukum wadh’I (positif/buatan manusia); dan menjadikan pula akhlak kaum muslimin yang istimewa berubah menjadi akhlak yang rendah, jumud (statis) pemikirannya, hanya mau mengikut dan dikuasai taklid buta, sehingga musuh-musuh mereka berhasil meraih tujuannya dalam menghentikan laju perkembangan Islam, memecah-belah kesatuan umat Islam, melunturkan akhlak kaum muda-mudinya dan menanamkan bibit-bibit keraguan/kesangsian dan atheisme dalam diri generasi Islam.
Dan, saya ingin menerangkan kepada kalian—wahai para pemuda!—bagaimana awal mula timbulnya persengkongkolan jahat yang dijutukan kepada umat Islam? Dan, sampai mana persekongkolan jahat itu berakhir? Kemudian, saya akan menerangkan bagian demi bagian skenario-skenario yang diplot oleh para propagandis ghazwul fikri untuk memerangi Islam, menyekulerkan negeri-negeri Islam, memalingkan generasi Islam dari front-front perjuangan dan jihad, serta menanamkan doktrin-doktrin liberalisme dan atheisme dalam pikiran umat Islam di setiap tempat.
Bagaimana Konspirasi Jahat Tersebut Bermula?
Musuh-musuh Islam mulai menlancarkan konspirasinya dengan menghapuskan khilafah Islam yang merepresentasikan kesatuan, kekuatan, dan eksistensi politik umat Islam di percaturan dunia. Inilah kisah penghapusan khilafah yang telah ditulis oleh buku-buku sejarah.
Sesungguhnya kolonialis yang diwakili oleh Inggris, Perancis, Italia, dan Yunani … yang dikendalikan oleh kaum zionis internasional, adalah pihak-pihak yang berada di belakang penghapusan khilafah, pemisahan agama dengan negara, dan terpecah-belahnya kesatuan umat Islam.
Negara-negara kolonialis sekutu memainkan peranan besar dalam penghapusan khilafah Islam dengan menyuntikkan paham nasionalisme Arab dalam pikiran bangsa Arab muslim, di satu sisi; dan menyuntikkan paham nasionalisme Thuraniyah at-Turkiyyah pada pikiran bangsa Turki muslim di sisi yang lain.
Dengan siasat yang licik ini, negera-negara sekutu berhasil memecah-belah dua bangsa muslim, dan mengobarkan sentimen ras dan fanatisme jahiliah di antara mereka. Seiring dengan perjalanan zaman, jadilah bangsa Arab muslim memandang bangsa Turki muslim sebagai orang-orang luar yang menjajah. Dalam buku Perjalanan di Negeri Arab , Charel Douty menyatakan bahwa yang menanamkan bibit kebencian yang berlebihan antara bangsa Arab dan bangsa Turki adalah politik Inggris yang mengadu-domba dan memecah-belah kesatuan umat Islam dengan menyuntikkan paham nasionalisme agar mereka dapat mengokohkan kuku cengkeramannya di wilyah Jazirah Arab. Pepatah lama mengatakan: ”pecah-belah dan kuasai”.
Siapakah yang Melaksanakan Konspirasi Tersebut?
Mereka adalah para anggota organisasi Jam’iyyah Ittihad wat-Taraqi. Merekalah yang mengobarkan perlawanan terhadap khilafah setelah mendapatkan provokasi dari negara-negara sekutu penjajah. Mereka dengan perkumpulannya, kerahasiaannya dan pemikiran-pemikiran, tunduk kepada masoniyah (Masonisme), dan masonisme itu tiada lain—wahai para pemuda—kecuali satu organisasi buatan orang-orang Yahudi. Mereka memunculkannya di dunia Islam dalam rangka mendirikan negara
Israel di negeri Islam Palestina, menghapuskan khilafah, memisahkan agama dari negara, dan memecah-belah kesatuan umat Islam. Mereka melakukan itu dengan cara membujuk para pejabat, penguasa, tokoh-tokoh berpengaruh dan orang-orang kaya untuk masuk ke dalam perkumpulan Masonisme. Bila mereka telah menjadi anggota aktifis yang dapat dipercaya dalam jaringan Masonisme internasional, maka mereka diperintah untuk melaksanakan rencana-rencana golongan Masonisme secara totalitas di negeri-negeri Islam.
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rhm mengatakan dalam majalah Al-Manar al-Islamiyah: “Sulthan Abdul Hamid adalah musuh anggota perkumpulan masonisme—di Turki—. Waktu berputar di pihak orang-orang Masoni …, perkumpulan ini mempunyai pengaruh besar terhadap peristiwa meletusnya revolusi politik yang terjadi di negeri-negeri Eropa, di antaranya adalah Revolusi Perancis, yang terjadi sebelumnya dan Revolusi Al-‘Utsmani setelahnya. (Rahasia Masoniah, hlm. 35).
Syaikh Muhammaf Rasy Ridha mengisyaratkan bahwa para pemimpin perkumpulan Al-Ittihad wat-Taraqi, antek-antek jaringan masonisme bekerja secara maksimal dalam menyebarkan masonisme di kalangan perwira angakatan bersenjata Turki. Mereka merancang persekongkolan jahat dan mencetuskan revolusi melawan agama. Sebagian perkataan beliau yang berkaitan dengan persoalan ini ialah: “Sesungguhnya para pemimpin tadi semuanya adalah anggota kelompok masonisme. Mereka bekerja keras dalam menyebarkan jaringan ini dan menjadikan tokoh-tokoh pemerintahkan—Turki Utsmani—sebagai anggota-anggotanya, mereka juga menyebarkannya di kalangan perwira pasukan, untuk melicinkan jalan bagi upaya mereka memisahkan antara politik dan agama. (Rahasia Masoniah, hlm. 35).
Organisasi Jam’iyyah al-Ittihad wat-Taraqi terus bekerja secara diam-diam dan menyebarkan pikiran-pikirannya dan melaksanakan tugasnya dalam tubuh militer Turki serta menjalankan rencana busuk mereka secara dan hati-hati, hingga pada akhirnya tahun 1908 M mereka berhasil menjauhkan khalifah dari kendali pemerintahan, dan memberikan padanya hak—sebagai tahap pertama—kekuasaan spiritual yang hanya berbentuk simbolik saja, tak memiliki kekuasaan sedikit pun, setelah terjadinya revolusi, yang memecah-belah kekuatan negara dan rakyat.
Tahukah kalian—wahai para pemuda—siapakah yang menyampaikan Surat Pencopotan Khalifah pada tahun 1908 M?
Dia adalah orang Yahudi Masoni, yang bernama Qrasow yang dipilih sebagai wakil dari kota Salonik.
Ya benar! Anggota perkumpulan Al-Ittihad wat-Taraqi keturunan Yahudi ini pernah menemui Sulthan Abdul Hamid sebelum diumumkannya undang-undang sekuler di Turki. Ia datang menemui Sulthan dan meminta agar Sulthan menyetujui orang-orang Yahudi hijrah ke Palestina, dan sebagai imbalannya ia akan memberikan hadiah kepada pribadi Sulthan uang senilai 5 juta Jeneh dan 50 juta Jeneh untuk kas negara. Namun, Sulthan Abdul Hamid menolaknya mentah-mentah. Beliau amat murka mendengar tawaran yang amat merugikan dan menyimpan maksud buruk ini. Beliau mengusir Qrasow dari majelisnya yang kemudian keluar dari istana Sulthan dalam keadaan tertunduk hina.
Akan tetapi, persekongkolan tersebut—wahai para pemuda—belum mencapai puncaknya, khilafah Islam masih tetap berdiri, berjuta-juta kaum muslimin di Timur dan Barat masih terikat dengan khilafah, baik secara moral, aqidah, dan negara (politik) yang menjadi lambang bagi persatuan mereka dan sebagai wadah penghimpunan bagi kekuatan mereka. Maka dari itu, yang dikerjakan oleh kolonialis Yahudi kemudian adalah menyiapkan para kolaborator yang menjadi antek-antek mereka di negeri-negeri Islam untuk menjalankan misi utamanya, yakni menghapus kekhalifahan Islam, memisahkan agama dari negara, memecah-belah kesatuan umat Islam, dan menghancurkan tatanan apa pun yang berkaitan dengan Al-Qur'an serta menghapuskan setiap aspek kehidupan sosial yang berhubungan dengan perintah Islam.
Siapakah yang Menjalankan Rencana Jahat Mereka?
Kamal Ataturk dan Ishmat Inonu, kedua orang inilah yang menjalankan rencana jahat tersebut, rencana jahat yang akhirnya menimbulkan bencana. Keduanya mengusalkan kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat Turki pada tahun 1924 M agar mengambil keputusan untuk menghapus khilafah, mendeklarasikan pemerintahan sekuler, dan memisahkan agama dari negara.
Inilah sebagian dari perkataan mereka: “Sesungguhnya kami akan meyingkirkan setiap khilafah yang mencoba mencampuri urusan negara atau berpikir mengenai hal tersebut.”
Inilah—wahai para pemuda—butir-butir kesepakatan yang disyaratkan oleh kaum kolonialis pada Kamal Ataturk dalam perundingan Luzon. Wakil pihak negara sekutu kolonialis dalam perundingan itu adalah Carazon, Menteri Luar Negeri Inggris. Sementara, yang menjadi wakil Turki adalah antek pengkhianat Ishmat Inonu. Isi perjanjian
Luzon, sebagai ganti imbalan bagi pengakuan mereka terhadap kemerdekaan Turki adalah sebagai berikut.
1. Menghapus khilafah secara total, mengusir Khalifah ke luar wilayah perbatasan dan menyita harta kekayaannya.
2. Memproklamirkan Turki sebagai negara sekuler. Maknanya memisahkan antara agama dan negara.
3. Turki menjamin pembekuan dan pemberangusan aktivitas seluruh elemen-elemen Islam yang masih tersisa.
4. Menggantikan undang-undang Daulah Islamiyah yang berdasarkan Islam dengan undang-undang positif.
Kesepakatan ini terjadi pada tanggal 4 Februari 1922 M. Lalu, setelah itu antek pengkhianat Ataturk melaksanakan apa yang menjadi tuntutan kaum kolonialis yang ditunggangi dan disetir oleh orang-orang yahudi. Mereka membutuhkan waktu beberapa tahun untuk menghapus khilafah, setelah terlebih dahulu mereka menghapus pengadilan-pengadilan syar’i. Lalu, pada tahun 1925 M mereka mengeluarkan peraturan hukum yang melarang pemakaian pakaian Islam. Mereka memasyarakatkan model pakaian Barat dan mewajibkan rakyat Turki mekai topi asing serta mengganti uspan assalamu’alaikum dengan salam penghormatan ala Barat, yakni dengan menundukkan kepala dan mengangkat topi. Pada tahun 1928 M mereka menghapuskan mata pelajaran ilmu-ilmu syar’i, mengganti tilawah Al-Qur'an dan bacaan adzan dengan bahasa Turki, menyamakan hak waris antara laki-laki dan wanita, menghapus poligami, mengganti huruf Hijaiyyah dengan huruf Latin, mengganti hari libur dari Jum’at menjadi Minggu (Ahad) …, serta perubahan-perubahan mendasar lainnya.
Setelah isi kesepakatan itu dijalankan oleh kaki tangan musuh, Ataturk, maka negara-negara sekutu mengakui kemerdekaan Turki dan Inggris menarik pasukannya dari Istambul.
Sebagai dampak penarikan pasukan Inggris dari wilayah Turki, maka salah seorang anggota parlemen Inggris menghujat menteri luar negeri Inggris di sidang parlemen. Dia dianggap gegabah telah memberikan pengakuan atas kemerdekaan Turki. Hujatan tersebut dijawab oleh Sang Menteri: “Sesungguhnya Turki telah tamat riwayatnya dan tak akan dapat bangkit kembali, sebab kami telah melumpuhkan kekuatan spiritual yang ada di dalamnya, yakni: Khilafah dan Islam.” Demikianlah kekuatan golongan salibi, masoni, Yahudi, dan boneka-boneka musuh bahu-membahu dan bantu-membantu dalam menghancurkan eksistensi Islam yang besar yang terepresentasikan pada khilafah, persatuan, dan Islam. Jalinan kekuatan dari berbagai unsur ini berhasil masuk ke negeri-negeri Islam, mengokohkan kuku cengkeramannya dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina … laa haula walaa quwwata illaa billaah!
Apakah Musuh-Musuh Islam Berhenti Sebatas Itu?
Tidak, musuh-musuh Islam dari golongan missionaris, orientalis, kolonialis, komunis, dan Yahudi bekerja siang malam untuk mencapai satu tujuan. Ketahuilah, tujuan mereka itu adalah mengeluarkan orang muslim dari keislamannya, atau paling tidak menjadikannya ragu terhadap aqidah Islam dan membebaskannya secara total dari nilai-nilai etika dan prinsip-prinsip moral.
Inilah permusuhan dan makar mereka terhadap Islam, menjelma dalam empat rencana.
1. Rencana-rencana kaum komunis.
2. Rencana-rencana kaum kafir salibi.
3. Rencana-rencana kaum Yahudi dan masoni.
4. Rencana-rencana antek-antek musuh dalam negeri.
1. Rencana-Rencana Kaum Komunis
Dalam sebuah dokumen rahasia yang diterbitkan majalah Kalimatul Haq pada bulan Muharram 1387 H, bertepatan dengan bulan April 1967 M, terungkap rencana kaum Komunis yang mengerikan dalam rangka menumpas kaum muslimin. Orang-orang komunis menyiapkan rencana itu di
kotaMoscow, kmd menyodorkannya kepada para pelayan mereka yang patuh di salah satu negeri Arab Islam agar dijalankan. Dan mereka menjalankan rencana tersebut dengan sempurna.
Saya akan menukilkan kepada kalian secara apa adanya dari majalah Kalimatul Haq sebagian isi dari rencana tersebut.
a. Melakukan kompromi (terlebih dahulu) dengan Islam untuk bisa mengalahkannya, kompromi tersebut hanya bersifat sementara waktu hingga kita bisa merasa yakin dapat menguasainya dan memikat bangsa Arab dengan sosialisme.
b. Merusak nama baik para pemuka agama dan para penguasa yang religius dan menuduh mereka sebagai antek-antek kolonialis dan zionis.
c. Memasukkan secara umum mata pelajaran sosialisme di semua pondok pesantren, universitas, sekolah-sekolah pada semua tingkatan …, mendesak Islam dan mengungkungnya sehingga tidak menjadi kekuatan yang mengancam eksistensi sosialisme.
d. Memberangus gerakan-gerakan agama di dalam negeri meski lemah kekuatannya, bekerja dengan sungguh-sungguh seraya mewaspadai kemungkinan munculnya gerakan agama, dan menyiksa keras tanpa kenal kasihan terhadap siapa saja yang menyeru kepada agama walau siksaan itu menyebabkan kematiannya.
e. Kita tidak melupakan bahwa agama mempunyai peranan penting dalam membina dan membangun masyarakat, maka dari itu kita harus mengepungnya dari segenap arah dan dari setiap tempat dan melakukan pembusukan terhadapnya, serta menjauhkan orang-orang dari agama dengan cara yang tidak menimbulkan kesan permusuhan terhadap agama.
f. Memotivasi para penulis atheis dan memberikan kebebasan kepada mereka untuk menyerang agama, rasa beragama, nurani agama, kebanggaan beragama, serta menanamkan dalam pikiran umat bahwa era Islam telah berlalu, tak lagi tersis daripadanya hari ini selain ibadah-ibadah ritual, seperti puasa, shalat, haji, akad nikah, dan talak. Dan kita akan mengatur urusan-urusan yang lain dengan sistem sosialis.
g. Putuskan ikatan yang mempertautkan antara agama dengan bangsa-bangsa Islam secara total dan gantikan tempatnya dengan ikatan sosialisme, oleh karena ikatan Islam sangat besar bahayanya terhadap sosialisme kita.
h. Sesungguhnya pemutusan ikatan-ikatan agama dan penghapusan agama tidak bisa dilakukan dengan menghancurkan masjid-masjid dan gereja-geraja, oleh karena agama itu tersembunyi di dalam hati sanubari, yang diminta adalah menghancurkan perasaan beragama, dan tidaklah sulit menghancurkan agama dalam hati sanubari orang-orang beriman setelah kita berhasil menjadikan paham sosialis merebut tampuk kekuasaan dan kepemimpinan … dan kita berhasil menyebarluaskan hal-hal yang menghancurkan agama, seperti dongeng-dongeng, panggung-panggung hiburan, seminar-seminar, surat-surat kabar, tulisan-tulisan yang mempropagandakan dan memopulerkan paham atheis, melecehkan dan mencemooh agama serta tokoh-tokohnya, serta menyeru kepada pencarian ilmu ansich dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai tuhan yang berkuasa….
i. Memperdaya para penganut agama dengan mengatakan kepada pemeluk Nasrani bahwa Al-Masih adalah seorang sosialis dan Bapak Sosialis. Dia adalah seorang miskin dari keluarga miskin, kaum pengikutnya adalah orang-orang miskin dan para pekerja keras. Dan dia menghasut (manusia) untuk memerangi orang-orang kaya … Dan mengenai Muhammad kita katakan bahwa dia adalah pemimpinnya orang-orang sosialis. Dia adalah orang miskin dan pengikutnya adalah orang-orang miskin. Dia memerangi orang-orang kaya penimbun harta, para rentenir, dan para tuan tanah, dan mengobarkan permusuhan terhadap mereka. Dan sejalan dengan cara-cara di atas, maka kita harus menggambarkan para nabi dan rasul, menjauhkan kesucian-kesucian spiritual, wahyu dan mukjizat mereka sedapat mungkin, untuk kita jadikan mereka sebagai manusia-manusia biasa sehingga kita bisa menjauhkan mereka dari keluarbiasaan yang dipercayai oleh para pengikut-pengikut mereka yang dungu.
j. Menyibukkan rakyat dengan slogan-slogan sosialis dan tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk berpikir serta menyibukkan mereka dengan nasyid-nasyid pengobar semangat dan cinta tanah air, organisasi, dan partai, dan melemparkan tanggung jawab kemerosotan ekonomi, kelaparan, kemiskinan, dan wabah penyakit kepada golongan konservatif, kolonialis, zionis, kaum borjuis, dan tokoh-tokoh agama ...
k. Tidak jadi soal (bagi kita) menggunakan agama untuk menghancurkan agama, dan tidak mengapa bagi para pemimpin sosialis mengerjakan sebagian faridhah agama yang bersifat jam’iyyah dengan tujuan mengelabuhi dan memperdaya, hanya saja waktunya jangan terlalu lama.
l. Menyatakan secara terbuka bahwa orang-orang sosialis beriman pada agama yang benar tidak pada agama yang palsu yang dipeluk orang karena kebodohan mereka. Agama yang benar adalah sosialisme dan agama yang palsu adalah candu yang membius (pikiran) rakyat … melemparkan setiap cacat Darwis (pemuka agama Yahudi) dan kesalahan-kesalahan tokoh agama pada agama itu sendiri, menyebarluaskan atheisme dan menyatakan bahwa agama adalah khurafat (tahayul) sementara khurafat itu hanya bisa masuk pada agama palsu bukan agama yang benar, yakni sosialisme.
m. Kita mengambil ajaran-ajaran Lenin dan pesan-pesannya bahwa Partai Sosialis merupakan musuh keras agama dan memerangi keyakinan agama atas janji yang dinanti-nantikan setelah mati, yakni Surga Firdaus, surga yang telah diwujudkan menjadi suatu kenyataan oleh doktrin sosialisme. Keadilan sosial yang telah diwujudkan oleh doktrin sosialisme itulah surga Firdaus yang sebenarnya …, jika dirasa masih perlu bersikap kompromistis dengan agama dan memberikan dukungan padanya, maka kompromi tersebut harus bersifat sementara waktu saja, dan dukungannya pun harus dilakukan secara hati-hati, sedapat mungkin menggunakan dukungan dan sikap kompromi pada agama adalah untuk menghapus agama itu sendiri. (Sebagian teks dokumen dimuat dalam buku Komunisme dan Islam yang ditulis oleh dua ustdadz: ‘Abbas Mahmud al-‘Aqqad dan Ahmad ‘Abdul Ghafur al-Aththar hlm. 123).
Dari isi dokumen ini menjadi jelaslah bahwa orang-orang komunis memprioritaskan propaganda mereka pada dunia Islam, pada urutan pertama. Karena mereka tahu, di satu sisi negeri-negeri Islam memiliki posisi strategis dan kekayaan ekonomi, dan di sisi lain karena mereka juga tahu bahwa Islam mempunyai potensi besar untuk menyebar, mempunyai prinsip-prinsip yang dinamis serta pilar-pilar peradaban (yang tidak lekang dimakan waktu).
Untuk merealisasikan rencana-rencana busuk tersebut, mereka menggunakan berbagai macam cara untuk menyesatkan manusia, menghancurkan agama, dan menyebarluaskan atheisme:
a. Terkadang orang-orang Marxis menggunakan baju Islam (seperti dinyatakan dalam dokumen).
b. Acap kali mereka mengeksploitasi teori-teori ilmiah untuk menyebarluaskan kekufuran dan kesesatan mereka, seperti teori Darwin yang membicarakan asal-usul manusia, dan proses evolusi dari spesies yang paling rendah ke yang paling tinggi. Dan, teori Freud yang menghubungkan sisi kejiwaan manusia dengan seksual dan libidonya. Dan, realita sejarah dalam menafsirkan revolusi-revolusi yang pernah terjadi dan kemajuan bangsa-bangsa.
Di balik pengeksploitasian teori-teori ilmiah ini, mereka hendak menanamkan keragu-raguan terhadap Sang Pencipta, prinsip-prinsip Islam, realita sejarah, dan kejayaan kaum muslimin (di masa lampau).
c. Terkadang mereka memanfaatkan kesempatan untuk menyebarkan secara terang-terangan tantangan terhadap agama-agama, doktrin atheisme serta menyatakan dengan jelas penentangan mereka terhadap Allah dan Rasul, seperti perkataan mereka.
1 Sesungguhnya tuhan, agama-agama, borjuisme, kapitalisme, dan semua nilai-nilai yang memimpin masyarakat manusia di masa lampau tiada lain kecuali patung-patung mumi yang teronggok di museum-museum sejarah.
2 Tidak ada Tuhan di alam semesta ini dan kehidupan adalah material (kebendaan).
3 Agama adalah candu yang membius masyarakat.
4 Para nabi adalah para pencuri dan pendusta.
d. Di antara cara-cara mereka yang keji adalah membunuh dan membantai para pemeluk agama di negeri-negeri Islam yang telah jatuh atau kelak akan jatuh di bawah kekuasaan mereka.
1 Di Cina dan Rusia orang-orang komunis membantai kaum muslimin selama seperempat abad lebih, sebanyak 26 juta jiwa, khususnya di provinsi negeri Cina yang penduduknya bersal dari etnis Turkistan yang beragama Islam.
2 Di negeri komunis Yugoslavia orang-orang komunis membantai kaum muslimin lebih dari satu juta jiwa setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua.
3 Betapa sering kita mendengar tentang tempat-tempat penjagalan kaum komunis di Irak pada masa pemerintahan Abdul Karim Qasim, dan di Yaman Selatan dan sekarang di Afghanistan!
Maha Benar Allah Yang Maha Agung yang berfirman tentang kelakuan orang-orang kafir: “Mereka tidak memelihara (hubungan) kekerabatan terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian ….” (At-Taubah: 10).
“… mereka tiada henti-hentinya memerangi kalian hingga mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup ….” (Al-Baqarah: 217).
Demikianlah orang-orang komunis menggunakan berbagai cara untuk setiap negeri, dan menyamar dengan segala cara untuk setiap keadaan. Pada saat mereka kuat, mereka memaksa rakyatnya untuk mengikuti doktrin-doktrinnya, seperti yang telah terjadi pada masa lalu di Cina, Rusia, dan Yugoslavia … sebagaimana yang mereka perbuat di Yaman selatan dan Afghanistan di masa sekarang.
Pada zaman sekarang mereka menggunakan cara cara-cara ghazwul fikri (perang pemikiran) yang sesuai dengan kondisi umat Islam dan cara-cara penyesatan, penipuan, dan pengelabuhan yang sesuai dengannya. Sehingga, apabila orang yang terpedaya itu masuk pintu dan jerat perangkap, maka orang-orang komunis menggiringnya selangkah demi selangkah kepada paham komunis, yang pada gilirannya ia nanti menjadi salah seorang bonekanya dan sebagai corong propagandanya … bahkan orang itu berani menyatakan di hadapan khalayak ramai tanpa malu-malu bahwa dirinya adalah musuh Islam, nabi-nabi, dan agama-agama.
“Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka …” (Muhammad: 23).
“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 28).
Jika kalian telah mengetahui tentang bahaya komunis ini, maka waspadalah serta berpalinglah darinya agar kalian tetap memiliki jati diri yang istimewa dan dapat menjaga aqidah Islam yang murni. Dan, Allah akan memberikan pertolongan kepada orang-orang yang takqa, mukhlis, dan beramal shaleh.
2. Rencana-Rencana Kaum Kafir Salibi
Kaum kafir “salibi” maksudnya adalah umat Nasrani yang menunjukkan rasa kedengkiannya dan menyebarkan bisa racunnya terhadap dinul Islam, untuk memerangi Islam, menumpas kaum muslimin, menguasai negeri-negeri mereka, dan mengeluarkan mereka dari aqidahnya.
Yang masuk dalam kelompok kaum kafir salibi adalah kaum missionaris, kaum orientalis, dan kaum kolonialis. Semua kelompok tersebut bekerja sama dalam memerangi negeri-negeri Islam, mengeluarkan orang Islam dari keislamannya dan memasukannya dalam agama Nasrani.
Kelompok-kelompok ini muncul dari kalangan kaum salibi dalam rangka menjalankan misinya, yaitu untuk mengkristenkan umat manusia. Kelompok-kelompok inilah yang pada dasarnya adalah kaum salibi itu sendiri. Pada saat ini kamu temukan mereka menggunakan nama-nama, istilah-istilah, dan cara-cara yang penampilan luarnya menunjukkan “kasih”, namun di dalamnya tersembunyi “kebencian dan dendam kesumat”.
Inilah—wahai para pemuda Islam—poin-poin utama dari rencana-rencana jahat golongan kafir salibi.
a. Menghapus Hukum Islam di Negeri-Negeri Islam
Telah tercatat di dalam sejarah bahwa kaum kafir salibi yang diwakili oleh Inggris, Perancis, Italia, dan Yunani sengaja menyetir antek-antek pengkhianat Kamal Ataturk di Perundingan Luzon untuk menghapus sistem kekhalifahan, memisahkan agama dari negara dan memutuskan Turki dari ikatan keislamannya.
Dengan pengkhianatan Kamal ini, menjadikan mereka mampu melumpuhkan kekuatan umat Islam yang terepresentasikan dalam dua hal: Islam dan khilafah. Akibatnya hukum sekuler la diniyah ini dapat dimasukkan ke negeri-negeri Islam melalui konspirasi mereka, sehingga negeri-negeri tersebut memerintah dengan hukum yang tidak diturunkan Allah, bahkan undang-undangnya adalah sekuler.
b. Memisahkan Al-Qur'an dari Kaum Muslimin
Kaum kafir salibi memandang bahwa sumber kekuatan utama kaum muslimin adalah Al-Qur'an. Oleh karena itu, mereka berupaya untuk memisahkan Al-Qur'an dari kaum muslimin.
Wiliam Gladstone dalam sidang umum parlemen Inggris berkata seraya mengangkat mushaf Al-Qur'an di hadapan para anggota sidang: “Selama Al-Qur'an ini ada di tangan kaum muslimin, maka orang-orang Eropa tidak akan bisa menguasai Timur, dan mereka tidak akan dapat memperoleh ketenangan.” (Al-Islam ‘alaa Muftariq ath-Thariq: 39).
Missionaris Kristen William Geofard Belgraf mengatakan: “Kapan Al-Qur'an dan
kota Mekkah tertutup/terkubur dari perhatian negeri-negeri Arab, mungkin saat itulah kita bisa menyaksikan bangsa Arab perlahan-lahan mengikuti peradaban Barat dan menjauh dari Muhammad dan kitabnya.” (Juduur al-Balaa’: 201).
Akan tetepi, segala upaya yang mereka tempuh mengalami kegagalan, karena Allah SWT telah menjamin penjagaan terhadap Al-Qur'an dari tiap upaya penyelewengan atau perubahan oleh tangan-tangan manusia sampai hari Kebangkitan kelak.
Allah SWT berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah menurunkan adz-dzikr (Al-Qur'an) dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (Al-Hijr: 9).
c. Merusak Fikrah Kaum Muslimin
Di antara rencana-rencana jahat kaum salibi adalah menutup jalinan hubungan muslim dengan Islam dan merusak fikrah Islam dalam benak mereka, supaya generasi Islam, khususnya kaum mudanya menempuh jalan hidup tak ber-Tuhan, serta bebas (permisif) serta memutus hubungan mereka dengan Allah dan Islam.
Berkata missionaris Kristen Takley: “Kita harus mendorong pendirian sekolah-sekolah yang menganut metode pendidikan Barat yang sekuler, oleh karena banyak orang-orang Islam yang menjadi goyah keyakinan mereka terhadap Islam dan Al-Qur'an ketika mereka belajar buku-buku pendidikan Barat dan belajar bahasa asing.” (At-Tabsyiir wal Isti’maar: 88).
Pastor Samuel Zwemer mengatakan pula dalam konggres missionaris dunia yang diadakan di Al-Quds tahun 1955: “Sesungguhnya tugas missionaris yang dipercayakan kepada kalian oleh negara-negara Kristen di negeri-negeri Islam bukanlah untuk memasukkan kaum muslimin ke dalam agama Kristen; karena sesungguhnya ini merupakan petunjuk dan pemuliaan bagi mereka …. Sesungguhnya tugas kalian yang sebenarnya adalah mengeluarkan orang Islam dari keislamannya sehingga menjadi sosok makhluk yang tak mempunyai hubungan dengan Allah, yang pada gilirannya nanti tak ada sama sekali tali ikatan yang menghubungkan antara dirinya dengan nilai-nilai moral yang menjadi pegangan umat dalam kehidupannya. Dengan apa yang kalian lakukan itu, maka kalian menjadi perintis ekspansi kolonialis di kerajaan-kerajaan Islam. Kalian telah mengondisikan semua akal pikiran di kerajaan-kerajaan Islam untuk menerima cara hidup yang kalian cocokkan dalam benak mereka, yakni mengeluarkan orang Islam dari keislamannya.” (Juduur al-Balaa’: 275).
Namun, kaum missionaris Barat itu gagal mencapai tujuannya yang keji, karena para pemuda Islam memiliki pemahaman, kesadaran, dan kebangkitan untuk kembali kepada Islam, serta berjihad dalam rangka meninggikan kalimat Allah, dan Allah menyempurnakan cahaya (agama)-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.
d. Memecah-belah Kesatuan dan Keutuhan Kaum Muslimin
Kaum salibi telah bekerja keras untuk memecah-belah kesatuan umat Islam. Pertama-tama mereka menghapus sistem kekhalifahan, dan akhirnya memecah-belah umat Islam menjadi banyak bangsa dan negeri. Apa yang mereka lekukan tidak lain untuk menjadikan umat Islam umat yang lemah, hina, dan tak memiliki kemuliaan, eksistensi, dan kekuasaan.
Berkata Pastor Simon: “Sesungguhnya kesatuan Arab Islam menghimpun harapan bangsa-bangsa Islam, dan mendukung mereka melepaskan diri dari cengkeraman kekuasaan bangsa-bangsa Eropa. Gerakan missionaris adalah faktor penting dalam mencerai-beraikan kekuatan tersebut. Maka dari itu kita harus merubah sikap pandang kaum muslimin terhadap (ide) persatuan Islam dengan gerakan missionaris.” (Kaifa Hudimat al-Khilaafah: 190).
Berkata missionaris Lawrence Brown: “Jika kaum muslimin bersatu dalam kekuasaan Imperium Arab, maka mereka dapat menjadi bahaya ancaman dan kutukan terhadap dunia, atau bisa pula menjadi rahmat baginya. Adapun jika mereka tetap terpecah-belah, maka sesungguhnya saat itu mereka tidak memiliki bobot atau pengaruh apa pun.” (Juduur al-Balaa’: 203).
Pada tahun 1907 M diadakan konferensi Eropa besar dengan pimpinan
Inggris. Konferensi besar itu berlangsung sebulan. Para peserta konferensi mengutarakan pendapatnya tentang berbagai ancaman eksternal yang mungkin bisa meruntuhkan peradaban Barat. Lalu, mereka menyimpulkan bahwa kaum muslimin adalah bahaya paling besar yang dapat mengancam eksistensi peradaban Eropa. Maka, mereka pun membuat rencana yang menuntut usaha keras guna mencegah timbulnya atau bersatunya atau bersepakatnya negara-negara Timur Tengah yang muslim, oleh karena mereka dapat menimbulkan bahaya ancaman serius terhadap masa depan Eropa ….
Akhirnya mereka sepakat memutuskan mendirikan kelompok nasionalisme Barat Yahudi yang anti Arab an kaum muslimin di timur Terusan Suez supaya kaum muslimin tetap terpecah-belah. Dengan adanya rencana ini, inggris akhirnya meletakkan dasar-dasar kerja sama dan persekutuan dengan kaum Zionis internasional yang mempropagandakan pendirian negara Yahudi di Palestina. (Al-Muaa’mirah wa Makrakah fie Mishiir: 25).
Akan tetapi, shahwah Islam yang timbul pada diri pemuda di negeri-negeri Islam meningkat hari demi hari. Mereka bercita-cita menegakkan persatuan umat Islam yang kokoh dan menyeluruh di bawah satu pimpinan dan satu daulah guna merealisasikan firman Allah:
“Sesungguhnya (syariat) ini adalah syariat kalian semua, agama yang satu, dan Aku adalah Rabb kalian, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya: 92).
Mudah-mudahan hal itu dekat masanya dengan izin Allah!
e. Merusak Kepribadian Wanita Muslimah
Yakni dengan mengarahkan opini mereka kepada gerakan-gerakan kebebasan wanita, membangkitkan perdebatan-perdebatan seputar hak-hak mereka, mempersamakannya dengan kaum pria, mengkritik sistem Islam dalam soal hijab, poligami, dan talak. Semua itu dimaksudkan untuk menimbulkan subhat dan keragu-raguan sekitar kelayakan syariat Islam sebagai pedoman hidup manusia di masa sekarang.
Pastor Samuel Z. yang menjabat Kepala Delegasi missionaris menulis dalam bukunya Al-‘Aalam al-Islam al-Yaum (Dunia Islam Hari Ini): “Belum pernah terjadi sebelumnya ada satu aqidah yang tegak kokoh di atas prinsip tauhid yang lebih besar daripada aqidah dinul Islam. Aqidah yang telah menyerbu dua benua besar,
Asia dan Afrika, dan menyebarkan prinsip-prinsip keyakinannya, syariat-syariatnya, tradisi-tradisinya kepada ratusan juta manusia …, dan memperkokoh tali ikatan mereka dengan bahasa Arab. Mereka menjadi laksana puing-puing reruntuhan dan benda-benda purbakala yang tumpuk-menumpuk di atas gunung yang tinggi menjulang, atau mereka seperti deretan gunung-gunung yang menanduk awan dan mencakar langit …, puncak-puncaknya bersinar terang memancarkan cahaya tauhid. Dan lepas alirannya menuju jurang-jurang poligami dan kemerosotan kaum wanita.”
Kemudian, musuh Islam ini mengakhiri perkataannya dengan menyampaikan nasihat kepada para missionaris supaya tidak berputus asa, oleh karena kebebasan/emansipasi wanita yang mereka serukan kelak akan mengeroposkan tulang-tulang masyarakat Islam. Dia berkata: “Hendaknya para missionaris tidak berputus asa jika melihat hasil dari usaha kristenisasi mereka terhadap umat Islam nampak tidak seberapa besar, sebab telah menjadi suatu kepastian bahwa telah tumbuh dalam hati orang-orang Islam satu kecondongan kuat untuk mempelajari ilmu-ilmu Barat dan kepada kebebasan wanita …” (Al-Ghaarah ‘alaa ‘Aalam al-Islam: 33-47).
Akan tetapi, kaum missionaris gagal mencapai tujuannya, karena wanita-wanita muslimah saat ini telah mengetahui hakikat konspirasi yang dirancang musuh-musuh Islam. Bahkan, akhirnya mereka tahu dengan suatu kesadaran bahwa Islam telah memberikan kepadanya hak-hak yang tidak diperoleh wanita lain mana pun yang hidup di bawah prinsip undang-undang buatan manusia. Mereka akhirnya juga tahu bahwa setiap orang yang memperjuangkan nasib kaum wanita, tujuan sebenarnya adalah merampas miliknya yang paling mahal dan paling berharga, yaitu kehormatan dan kesuciannya, untuk dijadikan komoditi perdagangan murahan di pasar-pasar syahwat dan kenikmatan dunia.
Kaum salibi memiliki berbagi cara dan propaganda untuk memerangi Islam dan kaum muslimin di negeri mereka sendiri. Kalian bisa mengetahui—wahai para pemuda—cara-cara dan propaganda mereka.
- Mendakwa Al-Qur'an sebagai kita orang Nasrani dan Yahudi yang dinukil oleh Muhammad saw. dari kitab-kitab samawi sebelumnya.
- Mengatakan bahwa filsafat Islam adalah buah pikiran orang-orang Yunani yang ditulis dengan bahasa Arab.
- Mengajak menghidupkan kembali Fir'aunisme di Mesir, Asyurisme di Irak, Barbarisme di utara Afrika, dan Fainiqisme di pesisir Palestina dan Lebanon. Serta mengajak untuk mengutamakan bahasa Parsi sebagai bahasa bangsa Aria' atas bahasa Arab sebagai bahasa bangsa Syam.
- Mengklaim bahwa orang-orang yang membawa panji-panji kehidupan berbudaya dan berperadaban di Timur Islam pada penghujung abad ke-19 adalah orang-orang Kristen Lebanon. Dan, mengklaim pula bahwa bangsa Barbar sendiri sajalah yang memiliki budaya dan peradaban di Utara Afrika dan Andalusia, dan bahwasannya Islam tidak mempunyai pengaruh apa pun dalam pembangunan peradaban manusia di dunia.
- Melemparkan tuduhan bahwa Islam adalah agama permusuhan, memaksa penganut agama-agama lain untuk memeluknya, dan menghasut para pengikutnya supaya berlaku keras terhadap orang-orang non-muslim, juga menyeru kepada peri kehidupan binatang, dan mengajak para pengikutnya untuk memuaskan diri dalam kenikmatan syahwat.
- Menghasut manusia agar menjauhi cara kehidupan orang-orang Islam, akhlak warisan mereka dan nilai-nilai etika mereka oleh karena ia adalah kehidupan primitif dan rendah.
- Mendakwakan bahwa faktor yang menyebabkan kemunduran dan keterbelakangan umat Islam dari kemajuan budaya dan peradaban di zaman sekarang adalah ajaran-ajaran Islam dan keterikatan umat Islam terhadapnya.
"... itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?!" (At-Taubah: 30).
Kaum kafir salibi--wahai para pemuda--mempunyai cara-cara keji dan busuk untuk memerangi Islam dan menggoyahkan aqidah kaum muslimin. Cara-cara yang mereka gunakan antara lain:
a. Mendidik Abna'ul Islam (Generasi Islam) di TK-TK, Sekolah-Sekolah, dan Perguruan Tinggi Mereka
Disebutkan dalam buku As-Suyuu'iyyuun fie Suuriyah (Kaum Komunis di Syria): "Sesungguhnya penginjil pertama adalah sekolah." Ada pula disebutkan di dalamnya: "Dirikanlah sebanyak-banyaknya sekolah-sekolah di seluruh penjuru dunia Islam, khususnya Taman Kanak-Kanak, oleh karena sarana yang paling efektif dan membuahkan hasil dalam mengkristenkan orang-orang Islam adalah dengan memberikan didikan pengajaran kepada putra-putra mereka yang masih kecil."
- Menyusun buku-buku, khusus untuk diajarkan kepada putra-putra Islam yang belajar di sekolah-sekolah mereka di berbagai jurusan pendidikan, dan kesemuanya mereka arahkan untuk melecehkan Islam dan menggiring para pelajar pada buku-buku rujukan missionaris dan orientalis yang menyemburkan bisa racun dan berisi penuh kebusukan.
- Memilih tenaga pengajar dan pendidik yang menurut pandangan mereka moderat sikapnya terhadap para penginjil, sebagai guru-guru di sekolah-sekolah mereka dan untuk mengajarkan buku-buku mereka. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang mempunyai bakat dan kecerdasan, memiliki pengalaman dan kemampuan.
- Memaksa para pelajar yang beragama Islam masuk gereja dan mendengarkan nasihat dan petuah pendeta, dan memaksa mereka mengikuti upacara keagamaan mereka.
- Senantiasa berupaya menanamkan doktrin-doktrin pendidikan Barat dalam pikiran orang-orang Islam, supaya mereka tumbuh dalam lingkungan tradisi Barat, di satu sisi; dan supaya memilih timbangan nilai-nilai Islam dalam diri mereka, di sisi yang lain.
- Berusaha secara gigih menampakkan wanita Barat dalam sosok penampilan maju dan modern serta menampakkan wanita Islam dalam sosok yang kolot dan terbelakang ..., sehingga wanita-wanita Islam membuang hijab, meninggalkan akhlak Islam, dan cenderung kepada kebebasan dan kerusakan.
b. Menyebarkan Buku-Buku Propaganda Kristenisasi ke Seluruh Penjuru Dunia Islam
Kaum missionaris Kristen dan kaum orientalis Barat sangat menaruh perhatian besar terhadap media cetak, seperti besarnya perhatian mereka terhadap dunia pendidikan atau bahkan lebih. Mereka mencetak buku-buku, menerbitkan majalah-majalah, dan surat-surat kabar, mendirikan percetakan-percetakan dan penerbitan, sehingga dunia penerbitan hampir-hampir mereka kuasai sepenuhnya tanpa saingan sama sekali.
Barangkali hal paling membahayakan yang dilakukan oleh kaum orientalis Barat hingga sekarang adalah penerbitan Daa'iratul Ma'aarif (Ensiklopedia) dalam beberapa bahasa. Hal itu dikarenakan ia menjadi buku referensi bagi banyak orang Islam dalam studi dan kajian ilmu mereka, padahal dalam ensiklopedia tersebut terdapat pencampuradukan, penyelewengan, dan perlawanan secara terang-terangan terhadap Islam dan kaum muslimin. Misalnya kamus Al-Munjid karya Pastor Lewis Ma'luf. Kamus ini tersebar di kalangan pelajar muslim dan non-muslim di dunia Islam, padahal di dalamnya terdapat pelecehan dan tikaman terhadap sistem Islam, Nabi Islam, dan sejarah Islam ....
Majalah paling berbahaya yang diterbitkan kaum orientalis Amerika dewasa ini adalah majalah Al-‘Aalam al-Islaami (Dunia Islam). Majalah ini didirikan oleh Samuel Z. tahun 1911, dan sekarang terbit dari Harvard, Amerika. Pemimpin redaksinya adalah Kamnich Krach. (Al-Fikru al-Islaami wa Shillatuhu bil Isti’maar al-Gharbi: 536).
Tak hilang dalam ingatan kita apa yang ditulis oleh George Zaidan dalam rangkaian buku-bukunya tentang pahlawan-pahlawan Islam dan sejarah Islam yang berisi penipuan, kebohongan, rekayasa, pemalsuan, dan celaan. Semua orang yang memiliki mata, akal dan kearifan pasti mengetahuinya. Demikian pula bukti-bukti yang ditulis oleh Sallamah Musa, tak kurang dari pendahulunya dalam hal kebohongan, penipuan, dan pemalsuannya pada sesuatu yang ia tulis mengenai Islam.
Jika kita lupa, maka kita tidak akan lupa buletin-buletin kristiani yang dikirim ke kotak-kotak pos kaum muslimin di setiap tempat, di sana-sini. Buletin-buletin tersebut berisi pesan cinta kasih bahwa Yesus adalah anak Tuhan Bapa, yang diutus kedunia untuk menyebarkan cinta kasih, kedamaian, dan toleransi …, dan agar anak-anak manusia masuk ke dalam agamanya serta menjadi pengikutnya, sehingga kasih sayang, kedamaian, dan toleransi memenuhi dunia.
c. Pelyanan-Pelayanan Kesehatan dan Sosial
Mereka menaruh perhatian terhadap masalah pelayanan kesehatan lebih dari pelayanan-pelayanan sosial yang lain. Yang pertama kali mendirikan klinik kesehatan sebagai sarana menyebarkan agama Kristen adalah orang-orang Amerika. Mereka membuka pertama kalinya di Kota Sivas, Turki, tahun 1859 M.
Sejak saat itu orang-orang Amerika dan missionaris Kristen yang lain menjadikan program pelayanan kesehatan sebagai proyek kristenisasi. Kenyataan ini bisa dilihat dari perkataan Dr. Bowl Hayson dalam bukunya Ath-Thabiib fie Bilaadil ‘Arab (Dokter di Negeri Arab), hlm. 277: “Sesungguhnya seorang missionaris akan dengan senang hati mendirikan rumah sakit, meski pendirian rumah sakit tersebut memakan biaya sebesar harga wilayah
Oman secara keseluruhan. Kami berada di negeri-negeri Arab adalah untuk menjadikan kaum lelaki dan wanitanya sebagai orang-orang Nasrani …. Dan sesungguhnya dakwah seorang dokter Kristen bisa mencapai berbagai lapisan masyarakat Islam dengan perantaraan pasien yang mereka obati …. Kemudian mereka mengharuskan setiap dokter Kristen untuk membawa kitab Injil, sebab posisinya itu memungkinkan dia untuk mengubah orang-orang di sekelilingnya dan menjadikan mereka sebagai orang-orang Kristen tule atau paling tidak ia bisa memberikan pengaruh yang amat besar dalam jiwa mereka.”
Pelayan-pelayan kesehatan dan sosial ini tersebar luas di mana-mana—wahai para pemuda—di sepanjang wilayah negeri-negeri Islam. Kalian semua tahu bahwa orang-orang Kristen di setiap negeri Islam mempunyai rumah-rumah sakit dan perkumpulan-perkumpulan amal serta organisasi-organisasi sosial. Itu tiada lain adalah untuk mempengaruhi orang-orang Islam yang lemah pikiran dan keyakinannnya.
d. Melarutkan Akhlak Masyarakat Islam
Yakni lewat minuman keras, seks, panggung-panggung seni, film-film, dan kebebasan (emansipasi) wanita. Sarana-sarana peluruhan dan pelarutan ini tiada lain ialah untuk memalingkan kaum muda khususnya dari cita-cita hidup mereka yang paling tinggi, yakni jihad fi sabiliollah, serta mengalihkan perhatian mereka dari tanggung jawab menyampaikan dakwah Islam dan mengemban risalah Islam ke dunia.
e. Memperbanyak Jumlah Missionaris di Dunia Islam
Surat kabar Al-Muslimun edisi XXXI menukil pernyataan Dr. Abdul Wadud Syaibi, Bendahara Dakwah Islam di Al-Azhar, bahwa junlah missionaris Kristen di dunia sekarang lebih dari 220.000 orang; 138.000 orang di antaranya dari golongan Katolik, dan 82.000 yang lain dari golongan Protestan. Maka, jumlah 5.000 orang dai Islam yang bekerja di sini dan di sana sama sekali tidak mencukupi untuk melawan mereka. Bagaimana bisa cukup, kalau di Indonesia saja jumlah missionaris lebih dari 10.000 orang?
Mengenai peningkatan jumlah gerakan kristenisasi si dunia Islam ini, beliau berkomentar: “Sesungguhnya peningkatan gerakan kristenisasi adalah untuk menghadapi gelombang shahwah Islam yang makin lama makin menguat. Kesadaran ini bukan sekadar kesadaran penguasa atau pemimpin, tapi ia adalah kesadaran yang sesungguhnya …, dan sekali-kali tiada akan berhenti, dan Islam diserukan di mana-mana, dan kesadaran Islam ini membangkitkan rasa takut dalam hati musuh-musuh Islam ….”
Serangan kaum missionaris Kristen yang menerbu dunia Islam hari ni pada hakikatnya tiada lain kecuali sebagi perkembangan lanjut dari skenario busuk dan konspirasi jahat para pendahulu mereka di masa lalu. Dr. Syaibi mengatakan, dalam wawancaranya dengan
surat kabar Al-muslimun, mengenai golongan missionaris Kristen: “Sesungguhnya permusuhan, kebencian, dan ketamakan yang diusung orang-orang Barat Kristen ke dunia Islam kelihatan dengan jelas pada peristiwa pendudukan pasukan Salib atas negara-negara Arab. Hal pertama yang dilakukan oleh kolonial Perancis di Aljazair adalah mengubah masjid yang pertama dan terbesar di Aljazair, yakni masjid Kisyar, menjadi sebuah gereja. Dan Jawatan Pos Perancis saat itu mengeluarkan perangko kenang-kenangan (sovenir) yang menggambarkan bulan sabit (simbol Islam) tenggelam di dasar laun dan salib (simbol Kristen) tinggi di atas ….”
Dr. Syaibi mengatakan lebih lanjut, “Untuk menyempurnakan rencana ini, maka Inggris menduduki Mesir. Dan dalam salah satu pidatonya
Gladstone, Perdana Menteri Inggris, mengatakan, ‘Sesungguhnya ada empat kendala di hadapan kita untuk bisa menghancurkan Islam, yaitu: mushaf Al-Qur'an, Ka’bah, Al-Azhar, dan shalat Jum’at ….”
Dari sini kita tahu bahwa missionaris Kristen pada masa sekarang tiada lain adalah perkembangan lebih lanjut dari masa lalu, yang dengan bantuan kaum orientalis, mereka ingin mencapai tujuannya yang terpendam lama, yakni menghancurkan Islam dan meruntuhkan keyakinan kaum muslimin. Akan tetepi, mereka gagal dan kalah, Allah SWT menyempurnakan cahaya-Nya dengan perantaraan kesadaran kaum muda Islam dan tekad mereka yang membaja dalam menyampaikan dakwah dan menyebarkan risalah Islam. Yang demikan itu bagi Allah adalah amat mudah.
Wahai para pemuda! Kuatkanlah niat, perteguh tekad, kerahkan kekuatan, dan bekerja dengan gigih untuk menggagalkan tipu daya orang-orang yang berbuat tipu daya serta menumpas kaum konspirator dan pendengki. Dan Allah beserta kalian, dan sekali-kali Dia tidak akan melupakan amal-amal kalian.
3. Rencana-Rencana Kaum Yahudi dan Masoni
Orang-orang Yahudi—semoga Allah SWT membinasakan mereka—menggunakan cara-cara yang kompleks, baik melalui jalur tipu daya, muslihat, maupun kelicikan, dalam upaya mereka mewujudkan cita-cita dan tujuan mereka memperluas pengaruh di bumi dan membentangkan kekuasaan di dunia.
Cara mereka untuk mewujudkan cita-cita mereka terhadap dunia sangatlah keji dan jahat, seperti yang digariskan dalam rencana-rencana mereka yang bersifat tahapan an operasional dalam protokol-protokol mereka.
Yahudi membagi umat manusia menjadi dua lapisan:
1. Bangsa Yahudi: mereka adalah bangsa pilihan Allah, duduk di atas singgasana kepemimpinan, dan di tangan mereka tergenggam kunci-kunci kemudahan untuk mengendalikan dunia.
2. Bangsa-Bangsa selain Yahudi: mereka adalah lapisan awam yang harus menjadi pelayan dan budak bagi bangsa Yahudi … oleh karena ras mereka di bawah ras Yahudi dalam hal kedudukan, kemuliaan, maupun kecerdasan. (Asaalibu al-Ghazwu al-Fikri: 145-150).
Aqidah Yahudi tersebut, yang menggolongkan manusia menjadi dua itu, merupakan idiologi lama yang terus berputas dalam benak pikiran orang-orang Yahudi sejak era generasi pendahulu mereka yang pertama. Idiologi ini terus diwariskan ke generasi berikutnya hingga sekarang. Mereka mewarisinya dengan penuh kehati-hatian seraya terus menahan diri dan menanti-nanti kesempatan bekerja dengan sabar, waspada, dan penuh kesiapan.
Pada penghujung abad ke-19 Theodore Hertzl, keturunan Yahudi, menyelenggarakan konferensi Yahudi pertama tahun 1897 di kota Basel, Swiss. Hasil-hasil keputusannya adalah undang-undang praktis bagi tahapan-tahapan rencana mereka. Kemudian Hertzl dalam bukunya Ad-Daulah al-Yahudiyah (Negeri Yahudi) telah menentukan wilayah Palestina (sebagai negara bangsa Yahudi) dengan pertimbangan bahwa ia adalah tanah yang dijanjikan dan tanah kelahiran para nabi dan rasul Bani Israel. orang-orang Yahudi telah bekerja untuk mewujudkan rencana-rencana mereka berdasarkan tahapan-tahapan fase-fase waktu. Melalui tahapan tersebut, mereka akan merebut seluruh batas-batas wilayah negeri yang dijanjikan yang meliputi kawasan yang membentang dari Sungai Nil ke Sungai Furat (Eufrat) dan menggabungkan daerah permukaan laut dari Mesir, Sinai, Palestina, separoh wilayah Irak bagian Barat, Syria, Lebanon, Gurun Syam, Yordania, Utara Hijaz, hingga Madinah Munawwarah.
Pada tahun 1948 bangsa Yahudi memproklamirkan—dengan kesepakatan negara-negara besar—berdirinnya negara Yahudi. Saat itu Ben Gurion mengatakan, “Sesungguhnya bangsa Yahudi telah mewujudkan cita-citanya paa tanggal 14 Mei 1948 dengan mendirikan negara Yahudi, lebih besar dari yang semula disepakati. Namun ini bukanlah akhir dari perjuangan kita, bahkan hari ini kita baru mulai. Kita harus berjuang mewujudkan berdirinya negara yang kita cita-citakan dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat.” Yang dimaksud oleh Ben Gurion adalah bahwa negara Israel berdiri di atas wilayah yang lebih luas dari apa yang mestinya mereka dapatkan dari rencana pembagian wilayah Palestina menjadi dua: untuk bangsa Arab dan bangsa Yahudi. Israel terus melakukan langkah-langkah persiapan untuk memperluas wilayahnya. Mereka memanfaatkan kelengahan negara-negara Arab dan terkadang mengadakan kesepakatan dengan mereka.
Dalam mengimplementasikan rencana-rencananya, ada tiga tujuan yang ingin diraih Yahudi:
Tujuan Pertama
Memecah-belah bangsa-bangsa di dunia, membangkitkan permusuhan antara sebagian dengan sebagian yang lain, mengobarkan peperangan antara sesama mereka, serta menyulut api fitnah di antara mereka.
Tujuan Kedua
Merusak aqidah umat, menghancurkan pemahaman, moral, dan tatanannya, serta menjauhkan mereka dari jalan Allah SWT.
Tujuan Ketiga
Mendirikan negara Israel yang membentang wilayanya dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat di jantung negeri-negeri Islam. Tujuan mereka dari semua itu supaya bangsa tersebut kehilangan unsur-unsur kekuatan, menjadikan bangsa Yahudi berkembang, kuat, dan maju, kemudian pada gilirannya nanti bangsa Yahudi akan menguasai aspek pemikiran, ekonomi, politik, dan militer masyarakat dunia.
Di antara upaya mereka dalam mewujudkan ketiga tujuannya ialah mendirikan perkumpulan-perkumpulan rahasia di negara-negara dunia. Barangkali di antara perkumpulan itu yang palig elit dan menduduki peringkat paling tinggi adalah “Klub Masoni”.
Apa Masoni Itu? Dan Apa Tujuannya?
Ust. Abdurrahman Hubannikah—semoga Allah SWT melindunginya—mengatakan dalam bukunya Makaa’idu Yahudiyah (Tipu Daya Yahudi) halaman 219: “Sejarah telah membuktikan bahwa klub ini—yang sangat ketat merahasiakan tujuan yang sebenarnya—tergolong organisasi rahasia tingkat dunia yang sangat berbahaya, yang memainkan peranan penting dalam sejarah masyarakat dunia dan mempunyai pengaruh langsung terhadap perjalanan nasib banyak bangsa, serta menguasai perpolitikan sebagian besar negara-negara dunia, di mana negara-negara tersebut tidak sadar bahwa mereka telah menjadi korban tipu daya Yahudi yang masuk negeri mereka lewat perkumpulan-perkumpulan Masoni; suatu perkumpulan rahasia yang dikendalikan oleh tangan-tangan Yahudi di balik layar. Mereka amat disiplin menyembunyikan dirinya padahal merekalah sebenarnya aktor intelektual yang merancang operasi-operasi di bidang pemikiran, politik, ekonomi, sosial, militer, dan sebagainya …, di negeri yang tersebar di sana perkumpulan-perkumpulan Masoni.”
Andaikata orang-orang Yahudi tidak mempunyai banyak antek-antek suatu negeri, niscaya mereka tidak bisa berbuat banyak untuk kepentingan kaum Yahudi internasional. Hanya saja, perkumpulan Masoni yang pucuk pimpinan meraka melayani orang-orang Yahudi mencapai tujuannya, bagai robot pelayan, yang bergerak tanpa disadari ke mana mereka menuju.
Sungguh betapa mencengangkan sebagian peneliti (sejarah) ketika mereka tahu bahwa orang-orang Yahudilah yang menjadi biang kerok meletusnya Perang Dunia. Merekalah yang menyulut dan mengobarkan api peperangan melalui perkumpulan Masoni dan klub-klubnya di dunia.
Sungguh sangat menyedihkan bahwa klub-klub Masoni ini telah merambah di lingkungan masyarakat kita, masyarakat Arab yang Islam. Dan banyak di antara orang-orang yang mengaku beragama Islam dari golongan cendekiawan, hartawan, pejabat, tokoh-tokoh berpengaruh, orang-orang kuat, dan para penguasa mengikuti prinsip-prinsipnya yang merusak.
Inilah Rencana-Rencana Utama Yahudi
Orang-orang Yahudi telah memberitahukan dalam protokolatnya tentang rencana-rencana mereka dalam ghazwul fikri untuk merusak manusia, baik aqidah, hati nurani, dan akal mereka.
- Mereka mengadopsi pikiran Sigmund Freud yang meninjau segala sesuatu mengenai perilaku manusia dengan insting seksual dan libidonya.
- Mengadopsi pikiran Karl Mark yang merusak akal dan aqidah banyak orang, anti agama dan menyerang aqidah uluhiyah. Ketika Karl Mark ditanya: “Lalu apa pengganti aqidah uluhiyah?” maka dia menjawab: “Penggantinya adalah The Other!”
- Mengadopsi pikiran Nietzche yang merusak akhlak, membolehkan orang berbuat sesuatu yang bisa mendatangkan kepuasan, meski untuk itu harus membunuh, atau menumpahkan darah, atau merusak.
- Mengadopsi pikiran Darwin tentang teori evolusi manusia. Teori itu menyebutkan bahwa manusia merupakan proses evolusi dari bakteri kehidupan, lalu menjadi ulat, lalu menjadi hewan, lelau menjadi kera, dan akhirnya menjadi manusia.
Bahkan, untuk merusak aqidah dan akhlak manusia, maka orang-orang Yahudi merancang suatu sistem. Untuk menjalankan sistem itu, mereka menggunakan sarana media massa, penerbitan, panggung-panggung hiburan, film-film, program-program radio, televisi, sekolah …, dan menggunakan perantaraan perkumpulan-perkumpulan Masoni buatan mereka, dan melalui tangan antek-antek pengkhianat dan para penulis bayaran.
Dalam protokolat IX orang-orang Yahudi mengatakan: “Kita telah berhasil menyesatkan orang-orang non-Yahudi, merusak aqidah mereka, dan menjadikan mereka bodoh melalui cara pengajaran, ide-ide pemikiran yang kita sendiri menganggapnya batil, kendati kita menyebarluaskan pemikiran tersebut.”
Dalam protokolat XIII disebutkan: “Untuk menjauhkan bangsa-bangsa non-Yahudi agar tidak punya kesempatan untuk menyingkap rencana baru kita, maka kita akan menyibukkan mereka dengan berbagai macam bentuk permainan dan tempat hiburan dan sebagainya … dan cepat-cepat kita memuat iklan dalam surat-surat kabar mengajak orang-orang ikut dalam berbagai perlombaan dalam segala bidang, seperti seni, olahraga, dan sebagainya.”
“Sesungguhnya kesenangan baru ini akan melalaikan sama sekali benak bangsa tadi dari masalah-masalah yang kita pertikaikan dengannya. Pada saat bangsa tersebut kehilangan secara berangsur-angsur kemampuan berpikirnya secara independen, maka semuanya akan bersorak bersama kita karena satu sebab, yakni kita akan menjadi anggota masyarakat dunia satu-satunya yang memiliki kemampuan untuk mengemuikakan satu kerangka pemikiran yang baru. Hal itu akan kita tunjukkan dengan menggunakan perantaraan orang-orang yang menjadi alat kita, yakni tokoh-tokoh yang tak diragukan lagi kerja samanya dengan kita. Dan peran serta pengaruh para tokoh panutan agama yang independen akan berakhir pada saat dunia mengakui pemerintahan kita, dan mereka akan memberikan pelayanan yang baik pada kita jika tiba saatnya nanti.”
Dan perkataan lain yang terdapat dalam protokolat mereka: “Kita harus bekerja merusak akhlak manusia di setiap tempat, sehingga mereka akan mudah kita kuasai. Sesungguhnya Sigmund Freud adalah orang kita, pikiran-pikirannya akan terus mengekspos hubungan seks di bawah terik matahari, sehingga tidak ada lagi sesuatu yang dianggap suci dalam pandangan kaum muda, dan jadilah cita-citanya yang terbesar adalah bagaimana cara mereka bisa memuaskan naluri seksualnya, maka saat itulah moral kaum muda menjadi bobrok.”
Dalam notulen rapat konferensi Masoni dunia tahun 1960 ada tercatat pernyataan mereka: “Sesungguhnya kita tidak cukup hanya mengalahkan para pemeluk agama dan tempat-tempat ibadah mereka, tujuan kita yang utama adalah memusnahkan mereka.”
Dalam majalah Akasia Masoni tahun 1930 dimuat perkataan mereka: “Sesungguhnya perjuangan melawan agama tidak akan berakhir hingga agama bisa dipisahkan dari negara dan Masonisme akan menggantikan kedudukan agama-agama. Dan sesungguhnya tempat-tempat perkumpulannya akan menggantikan posisi rumah-rumah ibadah.
“Kelak kita akan menjadikan Masonisme sebagai tujuan selain Allah.”
“Harus menciptakan generasi yang tak malu membuka auratnya.”
Seorang pemuka agama Yahudi mengatakan secara terang-terangan dalam sebuah upacara peletakan batu pertama perkumpulan Masoni di Tel Aviv tahun 1959: “Sesungguhnya kita semua bekerja untuk satu tujuan, yakni mengembalikan semua bangsa kepada agama pertama yang diturunkan Allah di atas permukaan bumi, dan agama-agama selainnya adalah batil. Agama-agama yang hanya diciptakan oleh sekelompok kaum di kalangan suatu penduduk negeri, atau di kalangan suatu bangsa. Dan sebagai hasil dari usaha dan perjuangan kalian, maka kelak akan datang masa di mana agama Nasrani dan agama Islam mengalami kehancuran, dan orang-orang Islam dan Nasrani melepaskan diri dari keyakinan mereka yang telah membusuk. Dan semua manusia memperoleh bimbingan cahaya kebenaran dan Hakikat ….” (Asaaliibul Ghazwil Fikri: 175).
Hal yang menguatakan bukti permusuhan orang-orang Yahudi terhadap agama-agama lain ialah perkataan mereka dalam protokolat XIV: “Saat kita jadi pemimpin-pemimpin dunia, maka kita tidak akan mengizinkan tegaknya suatu agama selain agama kita. Untuk mencapai maksud tujuan tersebut, maka kita harus melenyapkan aqidah-aqidah yang diyakini umat manusia. Jika hasil sementara yang kita capai mendorong terciptanya orang-orang atheis, maka itu tidak akan mempengaruhi apa yang menjadi tujuan kita. Bahkan ia bisa jadi contoh bagi generasi-generasi mendatang yang akand mendengarkan ajaran agama Musa. Agama ini telah menetapkan prinsip ajarannya yang
baku dan mulia kepada kita untuk menundukkan semua bangsa dan umat manusia di bahwa telapak kaki kita.”
Tahukah kalian-wahai para pemuda—setela saya beberkan rencana-rencana tersebut, apa sebenarnya yang mau dituju oleh orang-orang Yahudi Masoni di balik acara-acara keci dan rencana-rencana busuk yang mereka susun?
Sesungguhnya mereka bertujuan:
- Mengembalikan kejayaan bangsa Israel dan membangun negara Israel Raya yang membentang wilayahnya dari Sungai Eufrat hingga Sunagi Nil.
- Memalingkan generasi-generasi Islam—khususnya generasi mudanya—dari front-front perjuangan dan jihad.
- Menghancurkan semua agama, selain agama Yahudi, menghancurkan prinsip-prinsip moral, sosial, dan ekonomi di muka bumi dan hanya mengibarkan bendera Yahudi saja.
- Memecah-belah bangsa-bangsa di dunia, menyebarkan pertikaian di antasa sesama mereka, mengobarkan peperangan di antara mereka, menyulut api fitnah di kalangan bangsa-bangsanya … agar kekuasaan bidang militer, politik, dan ekonomi tetap berada di tangan Yahudi selamanya.
- Membuat boneka-boneka kaki tangan di setiap negeri melalui perkumpulan-perkumpulan rahasia Masoni, untuk menyebarluaskan pikiran-pikiran Yahudi di negeri-negeri yang mereka tempati, dan untuk menjalankan rencana-rencana bangsa Yahudi serta tujuan-tujuan mereka.
Inilah makar orang-orang Yahudi yang benar-benar jahat. Inilah rencana-rencana mereka yang sesungguhnya. Maka dari itu, wahai para pemuda, sadar dan waspadalah kalian terhadapnya, sehingga kalian tidak terperangkap oleh jerat-jerat pemikiran, tipu daya, dan muslihat orang-orang Yahudi yang bertujuan menggoyahkan aqidah kalian, merusakkan akhlak kalian, dan melenyapkan hal-hal yang kalian sucikan.
4. Rencana-Rencana Antek-Antek Musuh dalam Negeri
Sungguh, rencana yang mereka buat amat dahsyat dan mengerikan, bahkan lebih hebat dan lebih berbahaya dari rencana-rencana yang dibuat kaum komunis, kaum salibi, dan kaum Yahudi …, yang telah saya utarakan sebelumnya.
Mengapa lebih hebat, karena musuh yang satu ini sebangsa dengan kita, berbicara dengan bahasa kita, dan sebagian di antara mereka menganut agama yang kita anut. Terkadang mereka berbaju Islam, terkadang berbaju nasionalisme, dan terkadang berbaju arabisme untuk menyesatkan abna’ul Islam dengan pikiran-pikiran kufurnya dan dakwah-dakwah sesatnya.
Adapun bahaya yang diakibatkan tindakan khianat mereka ialah ketika jamaah-jamaah Islam, ulama-ulama dan dai-dai yang menyeru kepada agama Allah menentang mereka dan memperingkatkan kaum muslimin terhadap bahaya mereka serta memperlihatkan hakikat mereka kepada para pemuda Islam, maka mereka dituduh (oleh antek-antek musuh Islam) sebagai musuh-musuh negara dan demokrasi, dan dituduh sebagai antek-antek kolonialis dan zionis.
Tuduhan-tuduhan palsu itu untuk menjatuhkan kredibilitas mereka, menyangsikan perkara mereka, dan menjauhkan umat Islam agar tidak mendengar dakwah mereka atau terpengaruh oleh mereka. Bahkan jika para antek-antek pengkhianat tersebut mempunyai pengaruh dan kekuatan, maka mereka melemparkan tuduhan palsu untuk menjerat mereka dalam penjara, kemudian menimpakan kepada mereka siksaan keras tanpa perikemanusiaan, serta menyetir media-media massa supaya mengondisikan opini publik atas tuduhan-tuduhan palsu dan bohong tersebut, dan agar membenarkan tindakan serta persekongkolan (jahat) mereka terhadap jamaah Islam, ulama, dan dai. Demikianlah yang diperbuat oleh boneka-boneka kaki tangan musuh.
Siapakah Para Boneka Kaki Tangan Musuh Itu?
Yang saya maksud dengan para kaki tangan musuh ialah sekelompok putra-putra bangsa di setiap negeri Islam yang mempunyai hubungan dengan kaum komunis, atau kaum salibi, atau kaum Yahudi, atau doktrin-doktrin kolonialis yang menyesatkan. Kelompok-kelompok ini tersebar di berbagai belahan dunia Islam di
sana sini. Setiap kelompok menjalankan peranannya dalam menyebarkan doktrin-doktrin kufur dan sesat di atas bumi Islam, untuk mengeluarkan generasi Islam dari keislamannya dan memasukkan mereka dalam wadah partai kafir dan sesat. Sehingga, apabila mereka telah memiliki banyak pendudung di masyarakat dan di jajaran militer, maka mereka akan merebut kekuasaan, untuk menjalankan doktrin-doktrin dan rencana-rencana yang didiktekan oleh para pemimpin mereka. Inilah tujuan terbesar yang mereka usahakan dan perjuangkan.
Tak ada keraguan lagi bahwa setiap kelompok kaki tangan musuh yang khianat ini memiliki unsur-unsur pendukung yang senantiasa bekerja, mempunyai cara-cara yang beraneka ragam, doktrin-doktrin yang menyesatkan, organisasi-organisasi yang selalu berganti, dan bantuan-bantuan finansial dari luar yang selalu mengalir dan harus menjalankan perintah-perintah pemimpin mereka.
Jangan sampai dilalaikan dari ingatan bahwa kelompok Masoni Yahudi yang bekerja di negeri-negeri Islam merupakan kelompok yang paling berbahaya, paling licin tipu dayanya, paling hebat rencananya, dan paling merusak. Itu karena ia masuk dalam hati para pengikutnya melalui tutur kata yang manis, doktrin-doktrin yang menyilaukan, iming-iming pangkat, kekayaan dan jabatan. Sehingga, apabila telah masuk ke dalamnya maka akan naik posisinya hingga ke puncak. Kemudian akan menjalankan rencana-rencana Yahudi semampu mereka. Melalui tangan-tangan merekalah orang-orang Yahudi mewujudkan tujuannya dalam meluaskan pengaruh politiknya dari Sungai Eufrat hingga Sungai Nil, karena orang-orang Yahudi memudahkan kaki tangan itu promosi untuk meraih jabatan dan pangkat yang tinggi. Demikianlah yang mereka perbuat.
Kelompok-kelompok kaki tangan musuh ini dengan berbagai afiliasinya, baik Masoni Yahudi atau komunis atau salibi atau kolonialis … saling bekerja sama dalam mencuri aqidah iman, merusak syariat Islam dan menjatuhkan nilai-nilai etika dan moral dari dalam diri abna’ul Islam, sehingga tak tertinggal sesuatu pun yang bernama Islam dalam kamus pikiran anak, atau perbuatan terpuji yang namanya akhlak. Apa yang mereka lakukan menjadikan anak-anak generasi Islam menjadi ragu akan agamanya, goyah aqidahnya, dicuci otaknya dalam perjalanan hidupnya. Pada gilirannya anak-anak generasi Islam tersebut membuang segala sesuatu yang susi yang dibawa agama dan syariat. Bahkan, nantinya ia tercetak dengan pola pikir atheis atau tercemar dengan pola hidup permisif (serba boleh), memerangi keislamannya, sejarahnya, dan leluhurnya.
Para antek kaki tangan musuh yang menjual diri mereka kepada syaitan itu—wahai para pemuda—bercokol di kementerian-kementerian, di badan-badan pendidikan, di jaringan-jaringan media massa, di serikat-serikat pekerja, di LSM-LSM, dan di setiap tempat.
Adapun sarana-sarana mereka yang digunakan untuk menyebarkan kerusakan, kesesatan, dan kekufuran—wahai para pemuda—sangat banyak dan bermacam-macam. Terkadang lewat tayangan-tayangan televisi, panggung-panggung hiburan rakyat, perkumpulan dan pusat kebudayaan, dan sering kali dengan mendirikan organisasi baru.
Itu tidak termasuk upaya mereka menyusupkan pikiran-pikiran kafir pada kurikulum pendidikan, buku-buku, lembaga-lembaga pendidikan, dan perguruan tinggi. Juga, tidak termasuk pertemuan-pertemuan khusus di sarang-sarang konspirasi dan kerusakan.
Bukan rahasia lagi bagi kalian—wahai para pemuda—bahwa para antek kaki tangan musuh itu memilih lapisan masyarakat Islam yang masih bersih dan polos. Mereka memperdayanya dengan menggunakan cara logika, bujuk rayu, dan penyesatan, yang dapat mempengaruhi iman dan moral anak bangsa. Inilah cara-cara mereka.
- Mengiming-imingi pekerjaan, pangkat, dan jabatan kepada anak, begitu mereka lulus sekolah jika dia mau menerima pikiran-pikiran mereka dan bergabung dalam salah satu organisasinya.
- Memotivasi orang yang keranjingan peradaban Barat atau Timur … dengan perkataan mereka: “Sesungguhnya pemilik peradaban tersebut tidak sampai ke puncak kejayaan dan kekuatan kecuali sesudah mereka melempar agama ke belakang.”
- Membuat ragu orang yang menanyakan kepada mereka tentang aqidah ketuhanan, seperti perkataan mereka: “Jika Allah adalah pencipta, lalu siapakah yang menciptakan Allah?” atau, “Kita tidak bisa melihat Allah, berarti Allah tidak ada!” atau, “Alam semesta ini tercipta secara alami atau secara kebetulan …” dan perkataan-perkatan lain yang menimbulkan keraguan dan kesangsian.
- Membuat para pemuda Islam ragu dan sangsi terhadap sistem Islam, seperti perkataan mereka: “Sesungguhnya prinsip-prinsip Islam telah berakhir peranannya dan telah habis masa berlakunya, dan ia tidak layak lagi—menurut anggapan mereka yang batil—untuk zaman atom, listrik, dan ilmu pengetahuan.”
- Meyakinkan dalam pikiran anak bahwa Islam mewajibkan hijab pada kaum wanita, memerintahkannya supaya tinggal di rumah, dan menjadikannya sebagai budak kaum lelaki, maka tak mungkin kaum wanita bisa memperoleh hak-haknya secara sempurna dan merasakan harkat dirinya sebagai manusia kecuali dengan melepaskan diri dari belenggu agama, moral, dan tradisi.
- Menggiring kaum dewasa dan para pemuda untuk melampiaskan syahwatnya dan pergi ke tempat-tempat hiburan dengan dalih bahwa menyalurkan dorongan naluri itu berarti membebaskan tubuh dari impotensi.
- Mengangkat slogan-slogan palsu, terkadang ajakannya dengan nama modernisasi, dan pada waktu yang lain dengan nama prinsip-prinsip sosial. Dan juga seruan-seruan kepada kebebasan kaum buruh, kaum petani, dan kaum wanita. Serta slogan-slogan yang lain yang menyilaukan pandangan dan menipu. Luarnya memperlihatkan rahmat, namun dalamnya menyimpan azab, yang bertujuan memalingkan generasi Islam dari keislaman serta menggiring mereka menuju kerusakan dan kekafiran. Ini hanya sedikit saja dari sekian banyak cara yang digunakan oleh kaki tangan musuh untuk memerangi Islam dan menghancurkan aqidah rabbani dalam diri generasi Islam.
Apa yang Mereka Kehendaki di Balik Itu?
Mereka ingin membelenggu perjalanan nasib generasi mukmin dan masyarakat Islam pada gerbong kereta para pemimpin mereka, para pemilik aqidah kafir, isme-isme sesat, dan organisasi-organisasi Masoni yang merusak. Sehingga, tidak ada lagi dalam pandangan para pemuda an pemudi Islam sesuatu yang bernama agama atau aib atau malu atau haram!
Terkadang para antek musuh ini menampakkan diri dengan sosok penampilan seorang nasionalis yang membela dan memperjuangkan kemerdekaan tanah suci. Padahal, banyak orang tahu sikap khianatnya di masa lalu, sikap hinanya yang menyerahkan daerah-daerah strategis kepada Yahudi, dan tindakannya menumpas para pejuang Islam. Dan, terkadang tindakan khianatnya itu nampak jelas, yakni dengan kesediaannya untuk berdamai dengan Israel dan untuk berdampingan secara damai dengan orang-orang Yahudi, dalih dan bualnya untuk kepentingan bangsa dan perdamaian dunia.
Akan tetapi, kaum muslimin sekarang tahu terhadap kepalsuan pengakuan mereka dan kekacauan ucapan mereka meski mereka mengaku sebagai orang-orang nasionalis dan bekerja untuk kepentingan bangsa serta membanggakan upayanya yang sungguh-sungguh untuk kemerdekaan (tanah suci).
Hal-hal yang harus kalian ketahui dengan baik—wahai para pemuda—adalah bahwa para antek musuh itu ketika meraih kekuasaan negara dan memegang kendali pemerintahan, maka mereka menjalankan rencana-rencana yang didiktekan oleh tuan-tuannya lebih banyak daripada yang diminta hanya untuk memuaskan mereka, mendekatkan diri kepada mereka, dan menunjukkan loyalitasnya terhadap ajaran mereka.
Tengoklah Kamal Ataturk! antek dan kaki tangan orang-orang Masoni Yahudi dan Salibi. Dia menjalankan rencana-rencana kaum Yahudi dan Salibi lebih banyak dari yang didiktekan mereka kepadanya. Hal-hal yang telah disepakati dalam perundingan
Luzon adalah menghapus Khilafah, memisahkan agama dari negara, dan mengubah undang-undang negara dari Islam menjadi sekuler. Tetapi, apa yang dilakukan Kamal selepas perundingan itu? Dia melaksanakan seluruh hasil kesepakatan tersebut, bahkan untuk menyenangkan hati tuannya dan untuk menambah kedekatan dan kesetiaannya terhadap mereka, dia melikuidasi pengadilan-pengadilan syariah, madrasah-madrasah diniyah, wakaf, hukum waris, mengganti lafaz adzan dengan bahasa Turki, serta mengganti penggunaan huruf Arab dengan huruf latin. Itu semua terlaksana pada tahun 1928 M.
Wahai para pemuda! Saya mengatakan apa yang sebenarnya! Wahai para pemuda! Kalian tahu, bahwa sebagian dari masyarakat Islam sungguh telah terikat oleh sistem kapitalis atau komunis atau sosialis. Apabila keadaan itu terus berjalan dan tidak ada perlawanan atau penentangan dari umat Islam dan pemuda Islam, maka sesungguhya kita telah ditimpa kehinaan selamanya. Umat Islam di belahan bumi Timur dan Barat mengalami kehinaan dan kenistaan serta hidup dalam perbudakan, bahkan kita menjadi orang-orang yang berhak mendapatkan laknat Allah, laknat generasi Islam, dan laknat sejarah karena kelalaian kita, ketidakpedulian kita, kepasrahan dan kecintaan kita kepada dunia. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum fasik, dan orang yang zalim itu akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.
Kini kita ketahui bahwa kekuatan-kekuatan jahat itu semuanya bersatu padu, bahu membahu, dan tolong menolong dalam memerangi Islam dari dalam dada kaum muslimin. Buktinya, setelah jatuhnya Al-Quds di tangan Yahudi pada tahun 1967, Churchil berkata: “Lepasnya Al-Quds dari kekuasaan Islam merupakan impian orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sesungguhnya kegembiraan orang-orang Nasrani tak kalah dengan kegembiraan orang-orang Yahudi. Sesungguhnya Al-Quds telah lepas dari tangan kaum muslimin dan parlemen Israel telah menetapkan tiga ketetapan, di antaranya menjadikan Al-Quds sebagai bagian wilayah Israel dan tidak akan dikembalikan kepada kaum muslimin dalam perundingan apa pun di masa mendatang antara kaum muslimin dengan Yahudi.”
Apa Solusi untuk Melawan Itu Semua?
Whai para pemuda Islam!
Islam menuntut kalian supaya mengokohkan di dalam diri kalian dua benteng asar untuk menjadi pelindung dan penangkal yang kuat dari setiap ghazwul fikri (perang pemikiran) dan tasykik (hal-hal yang membuat ragu) dari kaum orientalis dan atheis.
Pertama, Benteng Tau’iyyah ats-Tsaqaafiyyah (Kesadaran Ilmu)
Yakni, dengan memahami secara syumul (menyeluruh) setiap bantahan para ulama Islam yang dijadikan dasar menepis syubhat-syubhat yang dimunculkan oleh para propagandis ghazwul fikri seputar sistem Islam, tarikh dan nabi Islam. Dan, melakukan studi secara komprehensif bahwa syariat Islam telah menghimpun di dalanya sifat rabbani, universal, syumul, dan reformatif. Dan prinsip-prinsip ajarannya membawa pilar-pilar penopang peradaban, kebangkitan, dan kemajuan. Dengan kesadaran ini, kalian dapat menolak kebodohan dengan ilmu, menangkal keraguan dengan yakin dan menepis syubhat dengan hujjah.
Kedua, Benteng Aqidah Imaniyah
Yakni dengan sikap menerima secara total dan keyakinan yang penuh bahwa din Islam yang agung ini adalah din yang haq dan abadi, yang telah Allah turunkan ke dalam hati Nabi-Nya, Muhammad saw. untuk menjadi pemberi kabar gembira dan peringatan bagi umat manusia di seluruh dunia. Dan bahwasannya Islam adalah satu-satunya din yang lengkap, yang memiliki kemampuan mencerna segala bentuk perkembangan kehidupan dan obat penyembuh bagi berbagai macam penyakit manusia di setiap tempat dan segala zaman sampai Allah mempusakai bumi seisinya. Dan bahwasannya yang menurunkan din ini haruslah Dzat Yang memiliki kesempurnaan mutlak, suci dan bersih dari kekurangan dan kelemahan, dan melekat padanya sifat pencipta qudrah, ilmu dan hikmah. Dan bahwasannya tiadalah Allah menurunkan din ini kecuali untuk mewujudkan kepentingan din dan dunia hamba-hamba-Nya serta mengangkat dari mereka ikatan dan belenggu yang melilit leher-leher mereka.
Dengan penerimaan dan keyakinan ini—wahai para pemuda—kalian akan mampu menolak denan tegas dan tegar segala macam sistem buatan manusia, dan segala syubhat apa pun yang dimunculkan musuh-musuh syariat, serta propagnda yang didengung-dengungkan oleh para propagandis ghazwul fikri di negeri-negeri Islam.
Akan tetepi, apakah cukup bagi para pemuda Islam hanya berbekal benteng ilmu dan iman untuk menjaga diri mereka agar tidak terperosok ke dalan jurang perangkap ghazwul fikri musuh dan menghindarkan diri dari tergelincir ke dalam lumpur kesesatan dan kekufuran?
Ya benar, tidak cukup bagi para pemuda untuk hidup mengisolasi diri dari lingkungan masyarakat atau menjauhkan diri dari persoalan-persoalan Islam, tak cukup sama sekali bagi mereka mengatakan, “Alhamdulillah, kami alam keadaan baik-baik saja, kami telah membentengi diri kami denan iman dan Islam!”
Wahai para pemuda, kalian harus mengetahui tugas besar di dalam menyebarkan risalah Islam dan melawan dengan segenap kekuatan, persekongkolan jahat musuh, serta untuk bekerja dengan sungguh-sungguh menegakkan hukum Allah di bumi.
Berpijak pada pemahaman dan kesadaran ini, mereka harus bergabung di bawah bendera jama’ah Islam, menapaki marhalah-marhalah amal bersamanya; di dalam menyampaikan dakwah Islam di kalangan kaum tua dan muda, lelaki dan perempuan; dalam memperingatkan umat Islam terhadap rencana-rencana keji dan konspirasi-konspirasi jahat yang dirancang musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam; dan dalam menyadarkan secara terbuka kaum muslimin agar bergabung dalam jama’ah Islam yang mukhlis untuk memperbanyak basis kelompok yang militan di negeri-negeri Islam di mana saja.
Sesungguhnya “sesuatu yang wajib yang tidak dapat terlaksana dengan sempurna kecuali dengan sesuatu, maka ia menjadi wajib”.
Selama musuh-musuh Islam bergerak dengan bebas dan leluasa menjalankan rencana-rencana mereka di negeri-negeri Islam, selama hukum-hukum Allah disingkirkan, dan selama kesatuan umat Islam belum terwujudkan, serta selama jihad islami belum mencapai marhalahnya, yakni takwin (membangun kekuatan) dan I’dad (mengadakan persiapan), maka wajib bagi para pemuda Islam dan para aktifis amal islami untuk bersatu padu di antara mereka dalam rangka wujudnya qa’idah islamiyyah ash-shulbah (Islam yang kuat) yang mampu menghadapi peristiwa-peristiwa dan konspirasi musuh di negeri-negeri Islam dengan tekad yang kokoh, cahaya iman, dan jiwa yang sabar.
Melalui qa’idah shulbah yang tersebar di dalam kelompok-kelompok Islam di sana sini, maka kemenangan terhadap musuh akan dapat diwujudkan, daulah Islam dapat ditegakkan, dan kejayaan, kepeloporan, kemuliaan, dan eksistensi politik umat dapat dikembalikan.
Dengan demikian--wahai para pemuda—solusi untuk menghadapi konspirasi-konspirasi yang dirancang oleh musuh-musuh Islam adalah;
1. membentengi diri dengan kesadaran ilmu.
2. Membentengi diri dengan aqidah yang kuat.
3. bergabung dengan qiyadah (jama’ah) Islam yang mukhlis.
4. memperbanyak qa’idah mu’minah, yang terdiri dari kaum tua, muda, lelaki, dan wanita di seluruh negeri-negeri Islam.
Jika yang demikian itu telah kalian lakukan, maka saat itu kalian telah memikul tanggung jawab kalian, telah menjalankan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas risalah yang terbeban di pundak kalian dan telah membongkar sarang-sarang kerusakan dan komplotan musuh yang bercokol di tengah-tengah umat kalian. Dan kalian telah berhasil menegakkan eksistensi politik yang besar di tengah-tengah masyarakat kalian. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetepi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
Sumber: Diringkas dari kitab Asy-Syabab al-Muslimu Fii Muwaajahati at-Tahaddiyaati, atau Aktivis Islam Menghadapi Tantangan Global, karya: Dr. Abdullah Nashih 'Ulwan, terj. Abu Abu Abida al-Qudsi (Pustaka Al -'Alaq, 2003), hlm. 39-85. s3leNgk4px......
Selamat Datang
Semoga Allah SWT Slalu Memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya Kepada Kamu Sekalian
Amin.....................!!!!!!!